Potret Kuartal I, Kinerja Emiten Kesehatan Kinclong saat Pandemi


Kondisi pandemi Covid-19 menghambat produktivitas bisnis dan berdampak negatif pada kinerja keuangan di sebagian besar sektor usaha. Namun ada pula yang memperoleh berkah dan meraup keuntungan, terbukti dari kinerja laba dan omzet emiten di sektor kesehatan yang moncer pada kuartal I 2021.

Emiten sektor alat kesehatan PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) tercatat membukukan pertumbuhan pendapatan paling tinggi pada kuartal I 2021, yakni mencapai 754% menjadi Rp 228,16 miliar dari raihan periode yang sama tahun lalu Rp 26,71 miliar.

Raihan omzet membuat Itama Ranoraya membukukan laba bersih Rp 20,91 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini atau meroket hingga 844,11% dari periode yang sama tahun lalu Rp 2,21 miliar.

Dari sektor farmasi, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA)  dan ada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) masing-masing mencetak pertumbuhan pendapatan masing-masing 59,83% dan 3,79% pada kuartal I 2021.  

Kalbe Farma mencatatkan pendapatan senilai Rp 6,01 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini atau meningkat 3,79% dari periode sama tahun lalu senilai Rp 5,79 triliun. Kenaikan pendapatan tersebut berdampak pada laba bersih Kalbe Farma menjadi Rp 716,46 miliar atau naik 7,05% dari Rp 669,26 miliar.

Sementara itu, pendapatan Prodia memang jauh lebih kecil, yakni hanya Rp 625,53 miliar, tapi pertumbuhannya melesat hingga 59,83% dibandingkan Rp 391,37 miliar. Sementara itu, laba bersih Prodia tercatat Rp 158,74 miliar, tumbuh signifikan hingga 356% dibandingkan Rp 34,78 miliar pada periode sama tahun lalu.

Sektor yang juga mendulang kenaikan kinerja adalah rumah sakit, seperti PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO).

SILO menjadi emiten dengan pendapatan paling besar yaitu Rp 1,91 triliun, melesat 32,49% dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 1,44 triliun. Tak berbeda jauh, pendapatan MIKA juga naik 37,62% menjadi Rp 1,2 triliun dari raihan semula Rp 874,71 miliar. Sedangkan pendapatan SAME sebesar Rp 218,93 miliar atau tumbuh paling signifikan 60,25% dari Rp 136,62 miliar.

SILO mampu membukukan laba bersih senilai Rp 143,89 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini, atau naik hingga 788% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 16,19 miliar. Sedangkan laba bersih MIKA naik 59,15% menjadi Rp 316,34 miliar dari sebelumnya Rp 198,77 miliar.

Pertumbuhan pendapatan SAME membuat perusahaan mengantongi laba bersih Rp 39,35 miliar kuartal I 2021. Padahal periode yang sama tahun lalu, SAME masih menderita kerugian hingga Rp 17,77 miliar.

Pergerakan Saham Bervariasi

Terkait harga saham, Itama Ranoraya mengalami kenaikan harga saham dengan ekspektasi pasar terhadap kinerjanya. Secara kumulatif, harga saham perusahaan berkode emiten IRRA itu mengalami kenaikan 11,25% menjadi Rp 1.780 per saham pada akhir Maret 2021.

Saham ini sempat mencapai puncak tertingginya pada 11 Januari 2021, di mana menyentuh harga Rp 3.700 per saham atau naik 131,25% dibandingkan akhir tahun lalu. Namun, setelah itu harga saham ini turun secara berturut-turut, hingga sempat menyentuh level terendah Rp 1.685 per saham pada 1 Februari 2021, meski tercatat masih menguat 5,31% dibandingkan akhir tahun lalu.

Saham Kalbe Farma secara kumulatif mampu naik 6,08% sepanjang kuartal I 2021 menjadi Rp 1.570 per saham. Harga tertinggi pada saham ini terjadi pada 11 Januari 2021 di harga Rp 1.760 per saham atau naik 18,92% dibanding akhir tahun lalu. Sementara itu, harga terendah terjadi pada 29 Januari 2021 di harga Rp 1.465 atau turun 1,01%.

Saham Prodia secara kumulatif juga naik hingga 23,08% menjadi Rp 4.000 per saham pada akhir Maret 2021. Harga sahamnya naik pada akhir periode kuartal I 2021, dimana sempat menyentuh harga tertinggi Rp 4.010 pada 29 Maret 2021. Sementara, harga terendah terjadi pada 14 Januari 2021 di Rp 3,270 per saham.

Sayangnya, kinerja keuangan yang kinclong tidak membuat harga saham emiten rumah sakit ikut terdongkrak. Seperti saham SILO yang pada kuartal I 2021 turun 11,64% menjadi Rp 4.860 per saham. Saham ini sempat menyentuh Rp 6.125 pada 8 Januari 2021 atau naik 11,36% dari awal tahun. Tapi sempat juga turun 16,36% menjadi Rp 4.600 pada 24 Maret 2021.

Saham MIKA juga mengalami penurunan 3,66% jika dibandingkan dengan akhir tahun 2020 menjadi Rp 2.630 per saham pada 31 Maret 2021. Saham ini sempat naik 17,22% menjadi Rp 3.200 pada 2 Februari 2021, dimana sebelumnya sempat turun 9,16% di Rp 2.480 pada 22 Januari 2021.

Meski begitu, harga saham SAME tercatat naik signifikan 104,65% sepanjang kuartal I-2021 menjadi Rp 440 per saham pada 31 Maret 2021. Pada 18 Maret 2021, saham ini menyentuh level tertinggi Rp 496 atau naik 130%. Sedangkan level terendah Rp 218 per saham pada 5 Januari 2021 atau tetap naik 1,4% dibandingkan akhir tahun lalu.

Bagikan:

Tinggalkan komentar