PT Pos Garap Inklusi Keuangan hingga ke Masyarakat Daerah Tertinggal

1 min read


PT Pos Indonesia (Persero) hendak ikut serta meningkatkan indeks inklusi keuangan. Untuk mengembangkan inklusi keuangan, PT Pos akan menyasar target yang sesuai dengan karakter perusahaan.

PT Pos menargetkan sasaran inklusi keuangan pada masyarakat di daerah tertinggal, masyarakat di perbatasan, masyarakat di pulau terluar, dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Serta kelompok masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial, pekerja migran Indonesia, hingga pelajar atau mahasiswa.

“PT Pos siap menyediakan sistem agar masyarakat yang belum terhubung sistem keuangan menjadi terhubung,” kata Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Faizal R Djoemadi dalam webinar Katadata dengan tema Peran Pos Indonesia dalam Inklusi Keuangan di Era Digital, Rabu (7/3).

Untuk mencapai target tersebut PT Pos akan menerapkan digital transporing melalui pos giro mobile, dan interaksi fisik melalui layanan di kantor pos. Saat ini ada 8400 kantor pos di seluruh Indonesia. PT Pos juga dibantu dengan 64 ribu agen pos jasa keuangan seperti BRILink.

Dalam pengembangan inklusi keuangan, PT Pos akan fokus pada payment dan remiten (menerima semua jenis pembayaran, listrik, pulsa, dan PBB), menyediakan rekening simpanan dengan aplikasi pos giro mobile, dan layanan keuangan yang terintegrasi.

Kepala Strategic Business Unit Giropos Digital PT Pos Indonesia, Hanggoro Feriawan mengatakan, saat ini transaksi keuangan di PT Pos mencapai 23%. PT Pos menargetkan pertumbuhan transaksi keuangan menjadi 58% pada 2022.

CEO Dana Indonesia Vincent Iswara mengatakan di masa pandemi kesadaran menggunakan keuangan digital. Dana mengatakan mulai April 2020 pengguna Dana Indonesia sebesar 40 juta. “Sampai dengan Desember 2020 sudah meningkat lebih dari 10 juta. Jadi pengguna kami saat ini sudah lebih dari 50 juta,” ujarnya.

Vincent mengatakan tiga besar layanan fasilitas yang ramai digunakan masyarakat adalah pembayaran online pedagang, P2P transfer kirim uang, dan bayar tagihan (listrik, air, gas, dan lainnya.

Penggunaan sejumlah layanan digital di Indonesia memang meningkat selama pembatasan sosial, salah satunya e-commerce. Konsumen banyak beralih dari offline ke online untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari.

 

 

Reporter: Muhammad Fikri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *