GrabFood Siapkan Tiga Strategi untuk Perkuat Bisnis Antar Makanan

1 min read


Persaingan bisnis jasa pesan-antar makanan atau food delivery semakin ketat setelah perusahaan e-commerce Shopee terjun ke sektor ini. Layanan on-demand Grab menyiapkan tiga strategi teknologi untuk menguasai pangsa pasar di Asia Tenggara.

Head of Engineering Deliveries Grab Xiaole Kuang menyebutkan perusahaannya terus mengembangkan teknologi platform. “Kami membangun dan mengevaluasi teknologi yang telah kami miliki dengan tujuan memberikan pengalaman yang terbaik bagi para pengguna,” katanya dalam acara diskusi Grab Tech Insider pada Rabu (3/3).

Pertama, memberikan sentuhan lokal di antaranya tampilan pada halaman aplikasi berbeda di tiap negara. “Ini agar platform bisa berfokus pada ketertarikan para pelanggan berdasarkan pola konsumsi negara masing-masing,” katanya.

Selain pada halaman, konten di berbagai display, seperti banner, kategori, dan pin yang berisi gambar-gambar atau carousel juga menyesuaikan sentuhan lokal.

Kedua, memberikan rekomendasi pilihan alternatif pesanan kepada konsumen. Apabila pengguna tak berhasil mendapatkan makanan yang dicarinya, maka aplikasi akan mencarikan mitra merchant serupa berdasarkan pada kemiripan kata kunci yang terdapat di menu. Rekomendasi yang diberikan oleh GrabFood mengandalkan kapabilitas machine learning.

Ketiga, aplikasi yang dipersonalisasi. Selain dengan rekomendasi, Grab juga mengembangkan kemampuan agar aplikasi bisa dekat dengan pengguna, berdasarkan atas hal-hal yang ia sukai.

Grab menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) misalnya untuk menampilkan mitra merchant yang paling cocok dengan profil pengguna saat masuk ke dalam aplikasi.

Bisnis pesan-antar makanan semakin sengit dengan masuknya Shopee Food di Indonesia sejak April tahun lalu. Shopee mulai mencari mitra pengemudi untuk Shopee Food pada November 2020. Induk Shopee, Sea Group, mulai persiapan memasuki bisnis ini dengan mengakuisisi Foody Corporation untuk menyedikan layanan pesan-antar makanan di Vietnam dengan nama Now pada 2017.

Sebelumnya, terdapat dua pemain utama dalam layanan pesan-antar makanan online, yaitu Gojek dengan GoFood dan Grab dengan GrabFood.

Riset Momentum Works menyebut, di Indonesia GrabFood telah menguasai pangsa pasar yakni 53% yang diikuti GoFood dengan pangsa pasar 47%. Momentum Works juga memperkirakan, nilai transaksi bruto atau GMV GrabFood US$ 5,9 miliar (Rp 83 triliun) pada 2020, sementara GoFood US$ 2 miliar (Rp 28 triliun).

Perkiraan nilai GMV tersebut berdasarkan analisis mendalam tentang industri pesan-antar makanan di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Metode penelitiannya mencakup wawancara, survei, dan data dari  layanan pemantauan pihak ketiga.

COO Momentum Works Yorlin Ng mengatakan bahwa untuk dapat bersaing di bisnis pesan-antar makanan, banyaknya pilihan menu, kecepatan, kualitas, dan biaya merupakan hal utama yang diperhatikan.

Ia mengatakan, baik Grab dan Gojek sama-sama diuntungkan karena model bisnis mereka aplikasi super atau super app dibandingkan dengan Shopee yang merupakan perusahaan e-commerce. Hal itu dapat mendorong pelanggan berbagi tumpangan (ride hailing) untuk menggunakan layanan lain.

Selain itu, bisa memanfaatkan infrastruktur yang ada termasuk pembayaran dan pengiriman. “Jadi, lebih hemat biaya dan berkesinambungan di kawasan ini,” katanya Januari lalu (28/1).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *