Rupiah Menguat Terangkat Sentimen Pemulihan Ekonomi Global

1 min read


Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,05% ke level Rp 14.110 per dolar AS pada pasar spot pagi ini, Selasa (23/2). Rupiah menguat seiring sentimen pemulihan ekonomi global.

Mayoritas mata uang Asia menguat pagi ini. Mengutip Bloomberg, yen Jepang naik 0,1%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,17%, dolar Taiwan 0,06%, peso Filipina 0,01%, rupee India 0,21%, yuan Tiongkok 0,9%, ringgit Malaysia 0,08%, dan baht Thailand 0,01%. Sementara itu, hanya won Korea Selatan yang terlihat melemah 0,02%.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menyampaikan, dolar AS melemah sejak semalam dan pagi ini masih terlihat melemah terhadap nilai tukar lainnya, termasuk nilai tukar regional. “Pelemahan mata uang Negeri Paman Sam ini terpicu oleh sentimen pemulihan ekonomi global,” ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Selasa (23/2).

Saat berita ini ditulis, indeks dolar AS melemah 0,06% ke level 89.96. Dengan begitu, dolar AS terlihat melemah terhadap mayoritas mata uang utama seperti euro, pound Inggris, dolar Kanada, dolar Australia, dan franc Swiss.

Dia memperkirakan, rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS hari ini dengan sentimen tersebut. Rupiah pada perdagangan kemarin melemah karena kenaikan imbal hasil alias yield obligasi pemerintah AS ke kisaran 1.39%.

Sementara pagi ini, yield obligasi pemerintah Negeri Paman Sam tenor 10 tahun terlihat menurun ke 1.36%. “Potensi pergerakan rupiah hari ini di antara Rp 14.050-14.130 per dolar AS,” katanya.

Analis Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk Rully Arya Wisnubroto memprediksi, rupiah dapat berbalik melemah hari ini karena kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun. “Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran kenaikan inflasi di AS,” kata Rully kepada Katadata.co.id.

Melansir Reuters, imbal hasil obligasi telah meningkat tajam bulan ini karena prospek lebih banyak stimulus fiskal AS. Langkah tersebut telah mendorong harapan untuk pemulihan ekonomi yang lebih cepat secara global, yang juga akan meningkatkan inflasi.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen memberikan sinyal pemberian stimulus fiskal sebesar US$ 1,9 triliun baru-baru ini. Paket jumbo tersebut ditekankan masih diperlukan untuk memulihkan ekonomi Negeri Paman Sam setelah terkontraksi karena Pandemi Covid-19.

Ekonomi terbesar di dunia tersebut menyusut minus 3,5% pada 2020. Capaian tersebut masih jauh lebih baik dari banyak negara lain yang perekonomiannya memburuk akibat virus corona.

Departemen Perdagangan AS  melaporkan, negeri itu mengalami penurunan ekonomi paling tajam sejak 1946 ketika Negeri Paman Sam melakukan demobilisasi pasca Perang Dunia II. Namun, kontraksi yang terjadi di sana tidak seburuk perkiraan sebelumnya, di mana pengeluaran konsumsi dan perjalanan hanya anjlok ketika dilakukan negeri adidaya tersebut memberlakukan lockdown.

Meskipun angka pengangguran dan kemiskinan melonjak tajam, AS tidak terpukul separah negara di belahan dunia lainnya. Hal tersebut mengingat ekonomi Negeri Paman Sam masih bisa tumbuh 4% pada kuartal IV 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *