Herd Immunity Bukan Didapat dari Membiarkan Orang Terkena Covid-19

1 min read


Hampir satu tahun dilanda pandemi, Indonesia masih menghadapi persoalan berat dalam penanganannya. Per tanggal 29 Januari 2021, total positif mencapai 1.051.795 kasus. Klaster Covid-19 yang bermunculan pun makin beragam seperti klaster keluarga, klaster perkantoran, klaster industri, sampai klaster komunitas.

Melihat banyaknya klaster yang bermunculan mencerminkan perlunya peningkatan pengawasan kepatuhan protokol kesehatan yang intensif dan berkelanjutan. Di samping persoalan klaster, masih banyak kesalahpahaman tentang Covid-19 yang beredar di masyarakat.

Salah satunya adalah anggapan masyarakat yang menyatakan bahwa kekebalan komunitas (herd immunity) bisa dicapai dengan membiarkan orang yang terkena Covid-19 sembuh sendiri. Masyarakat beranggapan, para penyintas akan memiliki kekebalan tubuh dengan sendirinya. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito meluruskan anggapan ini.

“Membiarkan orang sakit menjadi kebal dengan sendirinya, adalah keliru. Hal ini telah ditegaskan WHO (World Health Organization) sejak Oktober 2020,” katanya saat memberikan perkembangan penanganan Covid-19 di Gedung BNPB yang disiarkan di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (28/1).

Berdasarkan definisi WHO, herd immunity akan terlindungi dari virus ketika masyarakat di suatu daerah sebagian besar populasinya sudah disuntik vaksin. “Sehingga perlu ditegaskan, bahwa kekebalan komunitas dapat terbentuk dengan melindungi populasi dari virus, bukan dengan sengaja membiarkannya,”kata Wiku menegaskan.  

Melansir dari Antara, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 dr. Reisa Broto Asmoro menyatakan bahwa dengan semakin banyak orang menerima vaksin Covid-19, maka makin banyak orang yang memiliki perlindungan spesifik atau kekebalan terhadap virus Corona.

“Makin banyak orang kebal terhadap virusnya maka makin banyak orang yang terlindungi, sehingga akan mempercepat terjadinya penurunan kasus, diharapkan seperti itu,” ujarnya.

Jika lebih dari 70 persen penduduk di dunia atau di suatu wilayah sudah memiliki kekebalan terhadap Covid-19, penularannya tidak akan secepat seperti sekarang. “Dan kalau misalnya sudah lebih dari 90 persen orang yang punya kekebalan maka virusnya nanti sudah bingung bisa menginfeksi siapa lagi untuk memperbanyak dirinya karena kehilangan inangnya, karena orang sudah pada kebal,” ujarnya.

Banyaknya informasi yang tidak dibarengi dengan literasi media yang tinggi menjadi faktor penyebaran pemberitaan yang salah. Masyarakat cenderung percaya pada berita bohong yang ada di internet maupun sosial media. Sehingga mengakibatkan tingkat kepercayaan pada pemerintah menjadi menurun. Untuk mengatasinya, pemerintah saat ini melibatkan komunitas kesehatan, pemuka agama, dan perangkat desa untuk memberikan informasi mengenai vaksin yang berbasis fakta dan sains.

Indonesia saat ini sudah melakukan proses vaksinasi. Kelompok pertama penerima vaksin di Indonesia sudah menerima suntikan kedua pada Rabu (27/1) pukul 08.30 WIB lalu. Salah satunya adalah Presiden Joko Widodo. Untuk diketahui, vaksinasi Covid-19 perlu dilakukan sebanyak dua kali dengan jarak 14 hari.

Vaksinasi pertama dilakukan agar dapat memicu respon kekebalan awal. Lalu vaksin kedua untuk menguatkan respon imun yang telah terbentuk sebelumnya. Dengan memberikan dua dosis suntikan, respon antibodi akan muncul lebih optimal dan efektif. Antibodi akan optimal 14-28 hari setelah suntikan kedua. Oleh karenanya, protokol 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) perlu tetap dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *