Lakukan Transisi Energi, BP Pangkas Tim Eksplorasi Minyaknya

1 min read


Perusahaan energi asal Inggris, BP, memangkas tim eksplorasi minyak dan gas buminya (migas) pada tahun lalu. Hal ini sejalan dengan strategi untuk melakukan transisi sebagai produsen bahan bakar fosil ke energi baru terbarukan (EBT). 

Sumber Reuters menyebut ahli geologi, insinyur, dan ilmuwannya berkurang menjadi kurang 100 orang dari puncaknya 700 orang beberapa waktu lalu. Padahal, tim eksplorasi migasnya telah lebih seabad berkontribusi besar terhadap perusahaan dengan menemukan miliaran barel minyak. 

Transisi menuju energi bersih ini telah CEO BP Bernahrd Looney utarakan sejak tahun lalu. “Angin telah berubah menjadi sangat dingin di tim ini sejak kedatangan Looney dan terjadi sangat cepat,” kata seorang anggota senior tim eksplorasi BP, Senin (25/1). 

Ratusan orang telah meninggalkan tim itu. Ada yang dipindahkan untuk mengembangkan energi rendah karbon. Ada pula yang akhirnya terpaksa diberhentikan. 

BP menolak mengomentari perubahan kepegawaiannya. Katadata.co.id pun sempat mencoba mendapatkan komentar dari BP Indonesia soal ini, tapi tidak mendapat jawaban. 

Looney, baik secara internal dan eksternal, telah menyebut niatnya menurunkan target produksi migas perusahaan. Ia menjadi CEO perusahaan minyak utama dunia yang mempromosikan ekonomi rendah karbon. 

Di bawah kepemimpinannya, sekitar 10 ribu pekerjaan atau 15% angkatan kerja mengalami restrukturisasi. Jumlahnya menjadi yang paling agresif untuk raksasa perusahaan minyak Eropa, dibandingkan Royal Dutch Shell dan Total. 

Ia merupakan veteran insinyur perminyakan berusian 50 tahun. Sebelumnya, Looney mengepalai divisi eksplorasi dan produksi migas. Ia berencana untuk memangkas produksi minyak BP sebesar 1 juta barel per hari atau 40% sepanjang dekade ini. Di saat yang sama produksi energi terbarukannya naik 20 kali lipat.

Perubahan itu tidak mengubah sumber pendapatan perusahaan. Migas akan berperan penting, paling tidak sampai 2030. 

Perusahaan mulai mengurangi pengeluarannya untuk eksplorasi di bawah mantan CEO Bob Dudley. Keputusan ini bertepatan dengan jatuhnya harga minyak di 2014. Namun, Dudley tetap mendorong menambah cadangan migas. 

Sementara Looney melakukan aksi lebih radikal. Ia memotong anggaran eksplorasi menjadi sekitar US$ 350 juta hingga US$ 400 juta per tahun. Angkanya sekitar setengah dari pengeluaran 2019 dan jauh lebih kecil dibandingkan di 2010 yang mencapai US$ 4,6 miliar.

Ia yakin rencananya akan berhasil dengan dukungan pemerintah untuk transisi energi dan kemajuan teknologi yang membuat energi terbarukan lebih terjangkau. Looney juga meminta Giulia Chierchia, mantan eksekutif McKinsey untuk mengawasi pengembangan strategi BP.

Perusahaan Energi Pangkas Kegiatan Eksplorasi 

Sebenarnya tak hanya BP yang melakukan itu. Perusahaan migas papan atas telah secara tajam mengurangi pencarian bahan bakar fosil sejak 2020. Harga minyak yang rendah akibat pandemi corona menjadi pemicunya.

Data konsultan Norwegia, Rystad Energi, menunjukkan BP memperoleh sekitar 3 ribu kilometer persegi izin eksplorasi baru pada tahun lalu. Angkanya terendah sejak 2015 dan jauh lebih sedikit dibanding perusahaan sejenis. Shell mendapat 11 ribu kilometer persegi dan Total 17 ribu kilometer persegi. 

Penurunan yang terjadi pada BP dipicu perubahan strategi perusahaan. Exxon Mobil, Royal Dutch Shell, dan Total juga mengurangi pengeluaran karena perizinan eksplorasi yang turun. “Perusahaan tidak ingin menumpuk biaya di area non-inti operasi mereka,” kata analis Rystad Energy Palzor Shenga.

Sebagai informasi, Fortune Global 500 merilis daftar perusahaan energi dengan perolehan laba terbesar sepanjang 2019. Saudi Aramco memimpin dengan US$ 88,2 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan perusahaan-perusahaan lainnya di sektor yang sama.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *