Ekonomi Sirkular Berpotensi Tambah PDB RI Rp 638 T, Ada 5 Sektor Utama

1 min read


Penerapan ekonomi sirkular di Indonesia berpotensi menambah produk domestik bruto (PDB) sekitar Rp 593 triliun hingga 638 triliun. Hitungan ini berdasarkan hasil studi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) bersama pemerintah Denmark dan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP).

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan ekonomi sirkular dapat meningkatkan PDB secara signifikan di 2030. Total lapangan kerja baru yang tercipta mencapai 4,4 juta dan penurunan emisi karbon dioksida atau CO2 hingga 126 juta ton. “Studi ini merupakan tonggak awal proses transisi Indonesia menuju ekonomi sirkular,” kata dia dalam diskusi secara virtual, Senin (25/1).

Suharso menyebut ke depan pemerintah tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tapi juga pembangunan berkelanjutan dan rendah emisi karbon. Pandemi Covid-19 diharapkan menjadi momentum penerapan ekonomi sirkular.

Hal itu pun sesuai dengan tema utama rencana pembangunan jangka menengah nasional atau RPJMN perode 2020-2024. “Menuju transformasi ekonomi yang inklusif menjadi rencana kerja pemerintah tahun anggaran 2022,” katanya.

Sebagai langkah konkrit ekonomi sirkular dan pembangunan rendah karbon. Pemerintah mendorong pengembangan skema investasi berkelanjutan. Termasuk di dalamnya membuka kesempatan organisasi swasta dan non-pemerintah untuk bermitra dalam mendukung pembangunan rendah karbon. 

Kemudian, melalui investasi pada energi baru terbarukan, restorasi lahan berkelanjutan, pengembangan industri hijau, karbon biru, pengelolaan limbah, dan ekonomi sirkular. “Lalu, membangun pengetahuan teknologi hijau untuk mendukung implementasi penerapan ekonomi sirkular dan pembangunan ekonomi rendah karbon,” kata dia.

Dalam penerapannya, pemerintah berupaya untuk mengatasi beberapa hambatan utamanya, yaitu menghimpun investasi. Dengan masuknya aliran modal maka kesenjangan infrastruktur dapt teratasi. 

Lima Sektor Prioritas Penerapan Ekonomi Sirkular

Deputi Bidang Kemaritiman dan SDA Kementerian PPN/Bappenas Arifin Rudiyanto mengatakan setidaknya ada lima sektor prioritas dalam implementasi ekonomi sirkular. Kelimanya, yakni makanan dan minuman, tekstil, konstruksi, ritel yang berfokus pada kemasan plastik, serta elektronik.

Kelima sektor itu diperkirakan berkontribusi hingga 33% persen produk domestik bruto (PDB) domestik. Jumlah lapangan kerjanya mencapai lebih 43 juta orang pada 2019. 

Berdasarkan analisis Kementerian PPN/Bappenas menunjukkan penerapan ekonomi sirkular pada lima sektor ini dapat memberi dampak signifikan pada Indonesia. Pengurangan limbahnya mencapai 18%-52% dibandingkan dengan skenario business as usual pada 2030. 

“Apabila pendekatan business as usual terus dilakukan, limbah yang dihasilkan akan mengalami peningkatan dalam jumlah signifikan,” kata Arifin.

Indonesia setidaknya membutuhkan investasi sebesar Rp 308 triliun atau sekitar US$ 21,6 miliar tiap tahunnya untuk menerapkan ekonomi sirkular di lima sektor itu hingga 2030. “Kami berharap dapat menjalin kerja sama yang lebih erat dengan sektor swasta dan mitra pembangunan untuk menggabungkan investasi,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *