Adaptasi Budaya Kerja di Era Pandemi

1 min read


Pemerintah mengumumkan memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali dari 26 Januari hingga 8 Februari 2021. Implikasinya, perkantoran tetap diharuskan menjalankan kapasitas maksimal 25%, dan 75% di antaranya harus melakukan work from home (WFH). Hal ini disampaikan oleh Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartarto.

“Perkantoran tetap 75% work from home,” ujarnya pada kanal YouTube Sekretariat Presiden.(21/1)

Selama hampir setahun pandemi berjalan, penerapan kerja dari rumah merupakan salah satu cara untuk menekan angka penularan kasus Covid-19 di lingkup perkantoran. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk mengadaptasi fleksibilitas ruang bekerja, misalnya model bekerja dari mana saja. Hal tersebut juga mendorong perusahaan untuk melakukan penyesuaian terhadap sistem kerja dalam sebuah organisasi.

Sebagai contoh adalah perusahaan layanan media sosial populer, Twitter, yang memberlakukan WFH bagi karyawannya untuk selamanya. Artinya, karyawan tidak perlu datang ke kantor meski pandemi Covid-19 nantinya berakhir.

“Jika karyawan kami dalam situasi yang memungkinkan mereka untuk bekerja dari rumah dan mereka ingin terus melakukan itu selamanya, kami akan mewujudkannya,” kata Wakil Presiden Twitter Jennifer Christie mengutip CNN.

Adapun beberapa penyesuaian yang dapat dilakukan perusahaan dalam menghadapi budaya kerja baru layaknya WFH di antaranya, pertama adalah memberlakukan sistem shift sementara.  Sistem ini dinilai efektif untuk mencegah karyawan berkumpul dalam satu waktu. Perusahaan juga dapat menentukan jumlah shift sesuai dengan jumlah karyawan  serta mendengarkan masukan dari karyawan terkait jadwal shift. Pembagian jam kerja ini penting karena membuat karyawan bekerja sesuai porsinya.

Kedua, SOP protokol kesehatan menjadi penting. Mengubah budaya kebersihan di antara karyawan menjadi PR wajib bagi perusahaan. Hal ini bisa dimulai dengan mewajibkan karyawan menjaga kebersihan diri dan tempat kerja.

Selain itu, perusahaan juga wajib menyediakan fasilitas cuci tangan, hand sanitizer, pengecekan suhu tubuh, dan penyediaan masker. Kebersihan fasilitas kantor yang sering digunakan para karyawan juga perlu diperhatikan. Selain itu, perusahaan juga harus memberikan perhatian ekstra kepada karyawan yang lebih rentan terhadap COVID-19

Ketiga adalah memberlakukan flexible working space. Perusahaan dapat memberlakukan kebijakan bekerja secara remote dengan mengadopsi teknologi digital untuk alur kerja yang lebih efektif dan efisien, misalnya dengan menggunakan aplikasi pencatatan kerja serta absensi secara daring. Di samping itu, rapat secara virtual masih menjadi cara yang sangat direkomendasikan untuk mencegah pertemuan tatap muka.

Dan yang terpenting adalah, meningkatkan fokus and efektivitas kerja karyawan. Ada baiknya perusahaan mulai berfokus memberi tugas-tugas dengan dampak terbesar terhadap karyawan. Juga berupaya meningkatkan produktivitas karyawan dengan diskusi yang terbuka. Selain itu, penting untuk menhaga work-life balance demi kesehatan fisik dan mental karyawan dengan mengurangi lembur dan kerja di akhir pekan untuk mengantisipasi kelelahan selama pandemi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *