Posisi Indonesia di Tengah Persaingan Vaksinasi Covid-19 Dunia

1 min read


  • Indonesia negara kedua di Asia Tenggara yang memulai vaksinasi Covid-19
  • Vaksin AstraZeneca paling banyak dipesan negara di dunia
  • Ahli masih menunggu vaksin Merah Putih yang berbasis DNA

 

 

Gema vaksinasi Covid-19 terus menggaung di Indonesia usai Presiden Joko Widodo menjalani penyuntikan pertama pekan lalu. Bahkan Indonesia menjadi salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang lebih dulu memulai pemberian vaksin.

Hingga Jumat (22 /1) pukul 11.00 WIB,  sudah ada 132.004 atau 8,8% tenaga kesehatan yang menjalani vaksinasi. Pada tahap pertama, ada 598.483 tenaga kesehatan yang akan disuntik pada Januari 2021. Sedangkan sisa 888.282 tenaga kesehatan akan divaksin pada tahap II, yaitu Februari 2021. 

“Vaksinasi kepada tenaga kesehatan akan terus berlangsung. Diharapkan hingga Februari kami mencapai target 1,4 juta tenaga kesehatan,” ujar Juru Bicara Pemerintah untuk Vaksinasi COVID-19 Siti Nadia Tarmizi, Jumat (22/1).

 

Bahkan dimulainya vaksinasi Covid-19 di Indonesia memicu komentar warganet dari negara tetangga. Seorang netizen Malaysia mengatakan negaranya ketinggalan dari Indonesia dalam urusan vaksinasi Covid-19.

“Indonesia tak bising (ribut) sana-sini, tahu-tahu vaksin sudah sampai,” kata pemilik akun Twitter @ikr**_zy* pada 13 Januari lalu.

Netizen Malaysia lainnya meminta pemerintahnya segera mengejar Indonesia karena kasus Covid-19 bertambah parah. “Makin parah Malaysia ni,” cuit akun @din**gk*mu.

Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia Khairy Jamaluddin dalam akun Twitternya juga memberikan selamat kepada Indonesia. Dia sempat memberi penjelasan bahwa RI menjadi salah satu negara yang paling awal mendapatkan vaksin lantaran jadi lokasi uji klinis merek antivirus tersebut.

“Brasil dan Turki juga menjadi tempat uji klinis Sinovac karena jumlah kasusnya tinggi,” cuit Khairy dalam Twitternya, 13 Januari lalu.

Malaysia sendiri baru menjadwalkan vaksinasi pertama dilakukan pada Februari 2021. Mereka sedang dalam proses pengadaan 64 juta dosis vaksin AstraZeneca.

 

Meski demikian, RI bukan negara pertama yang memulai vaksinasi Covid-19 massal. Dikutip dari Al-Jazeera, Singapura merupakan negara ASEAN pertama yang telah memberikan vaksin kepada warganya.

Pemerintah Negeri Singa telah memberikan vaksin Covid-19 kepada perawat rumah sakit bernama Sarah Lim tanggal 30 Desember lalu. Tenaga kesehatan berusia 46 tahun tersebut mendapatkan suntikan antivirus bikinan Pfizer. 

Tak hanya itu, sejumlah negara Eropa sebenarnya telah memulai vaksinasi lebih dulu dari RI. Mayoritas menggunakan vaksin bikinan Pfizer yang menggandeng perusahaan  Jerman yakni BioNTech.

Salah satu yang paling awal adalah Inggris yang telah mulai memberi vaksin Pfizer pada 8 Desember lalu. Beberapa negara Eropa lain seperti Prancis, Jerman, Hungaria, Slovakia, menyusul pada 26 Desember.

Berselang satu hari kemudian, Italia, Finlandia, Kroasia, Siprus, Ceko, Denmark, Yunani, Malta, Polandia, dan Spanyol juga menyusul vaksinasi massal dengan merek serupa.

Di Amerika Serikat, vaksinasi Covid-19 bikinan Pfizer juga dimulai pada 8 Desember. Sedangkan di Asia, Arab Saudi menjadi negara pertama yang mengawali penyuntikan vaksin Pfizer-BioNTech yakni tanggal 17 Desember.

Sedangkan negara yang melakukan vaksinasi Covid-19 paling masif adalah Israel. Hingga saat ini mereka telah menyuntik sekurangnya 2,4 juta dari total 9 juta penduduknya dengan vaksin bikinan Pfizer dan Moderna.

Adapun Turki dan Brasil merupakan dua negara selain Indonesia yang memberikan vaksin Sinovac kepada warganya. Turki telah mengamankan 3 juta dosis CoronaVac, sedangkan Negeri Samba telah menyiapkan 6 juta dosis vaksin serupa.

Namun tak semua negara terburu-buru untuk memberi vaksin warganya. Australia memilih menunda proses vaksinasi dengan alasan ingin mengetahui dampak yang terjadi terlebih dulu. Mereka awalnya akan memulai penyuntikan pada pertengahan atau akhir Februari.

“Kami ingin dapat melindungi warga Australia dengan vaksin ini dan memastikan melakukannya dengan benar,” kata Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Kamis (21/1) dikutip dari The Straits Times.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *