Pengenalan Cryptocurrency untuk Pemula – Pewarta Indonesia

2 min read


KOPI, Jakarta – Cryptocurrency ialah asset digital yang ada di atas sistem blockchain. Asset crypto bisa dipakai untuk transaksi bisnis virtual berbasiskan koneksi internet. Cryptocurrency memakai teknologi kriptografi dan blockchain untuk amankan dan memverifikasi tiap transaksi bisnis supaya tidak ada pihak yang dapat lakukan double-spending (belanjakan asset yang serupa dua kali di dunia digital).

Semenjak ada teknologi blockchain sebagai jalan keluar permasalahan double-spending, banyak asset digital baru yang banyak muncul di atas blockchain. Misalnya ialah Bitcoin, Ethereum, dan yang lain.

Masing-masing asset ini bisa diperjualbelikan dan ditransaksikan secara global dan 24/7. Nilai tukar tiap asset ini dipastikan oleh penawaran (suplai) dan keinginan (demand) beberapa pelaku pasar perdagangan.

Silahkan kita ulas beberapa tipe asset digital selanjutnya yang saya lansir dari crypto media Indonesia :

Jenis-Jenis Cryptocurrency

Ada beberapa crypto yang tersebar di pasar, seperti Bitcoin, Ethereum, Binance Coin, Tether, dan lain sebagainya. Tetapi pada dasarnya, ada dua tipe crypto, yakni native coin dan token.

  1. Native Coin

Native coin ialah asset digital / coin yang dibikin bertepatan dengan penciptaan suatu blockchain tersebut. Selaku contoh, Bitcoin (BTC) ialah native coin yang tersebar di atas blockchain Bitcoin, dan Ether (ETH) ialah native coin di atas blockchain Ethereum.

Biasanya, untuk menambahkan jumlah native coin yang tersebar, native coin itu perlu di”tambang” (mining) seperti komoditas logam. Di dunia crypto, mining ialah aktivitas memverifikasi, mengolah dan amankan transaksi bisnis secara terdesentralisasi. “Penambang” yang sukses lakukan proses itu akan mendapatkan penghargaan berbentuk native coin dari mekanisme blockchain itu. Miner blockchain bitcoin akan mendapatkan BTC, dan miner blockchain Ethereum akan mendapatkan ETH.

Nilai dari satu coin di pasar dipastikan sepenuhnya oleh supply dan permintaan. Jika orang yang memakainya (misalkan untuk investasi atau alat transisi nilai) semakin banyak dibanding tersedianya di pasar, karena itu nilainya akan naik.

Kebalikannya, jika pemasaran coin itu semakin banyak dibanding konsumen, karena itu nilainya akan turun.

Semua transaksi bisnis di atas blockchain memerlukan native coin selaku fee yang dibayar ke miner. Misalkan, bila anda pengin kirim BTC di atas blockchain bitcoin, anda harus bayar fee dalam BTC ke miner. Bila anda berbisnis di atas blockchain Ethereum, anda harus membayar ETH ke miner.

  1. Token

Native coin ialah asset digital / coin yang dibuat bertepatan dengan penciptaan suatu blockchain tersebut. Selaku contoh, Bitcoin (BTC) ialah native coin yang tersebar di atas blockchain Bitcoin, dan Ether (ETH) ialah native coin di atas blockchain Ethereum.

Token ialah crypto yang diedarkan dengan “menumpang” selaku satu proyek di basis blockchain lain (misalnya Ethereum). Token diedarkan dengan arah tertentu dan banyaknya dapat ditata oleh pengembang token itu.

Token menjadi wujud digital dari surat bernilai, representasi saham (security token), atau digunakan untuk memberi akses ke satu peranan (utility token) seperti pulsa selular yang dipakai untuk bertelepon.

Satu bentuk penerapan token ialah penerbitan stablecoin. Stablecoin diedarkan selaku wujud representasi digital dari satu asset asli sebagai backingnya. Asset asli itu tersimpan oleh faksi pengembang.

Contoh2 dari stablecoin ialah :

  • Rupiah Token (IDRT) – stablecoin yang berharga 1 Rupiah.
  • Tether (USDT) / USD Coin (USDC) – **** stablecoin berharga 1 US Dolar.
  • Digix (DGX) – stablecoin berharga 1 gr

Demikian artikel mengenai Pengenalan Cryptocurrency untuk Pemula, semoga bermanfaat !

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *