Pembatasan Aktivitas Tekan Konsumsi, BI Ramal Ekonomi Bisa Tumbuh 5,8%

1 min read


Bank Indonesia memperkirakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat yang diperpanjang hingga 8 Februrari 2021 akan menahan laju kenaikan konsumsi rumah tangga. Meski demikian, bank sentral masih optimistis ekonomi akan tumbuh dalam rentang 4,8-5,8% pada tahun ini.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, ekspkstasi penjualan eceran maupun keyakinan konsumen masih meningkat. Namun, kenaikannya lebih rendah dari yang diperkirakan seiring dampak kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat.

“Secara keseluruhan, ekonomi tahun ini masih akan tumbuh 4,8% hingga 5,8%. Perkiraan itu masih kami pegang meski dari waktu ke waktu kami akan terus melakukan asesmen bagaimana vaksinasi, global, ekspansi fiskal dan belanja modal, serta kenaikan investasi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan BI Januari 2021, Kamis (21/1). 

Perry berharap, program vaksinasi nasional yang telah dimulai pada awal Januari 2021 dan disiplin yang tetap dibarengi dengan penerapan protokol Covid-19 dapat mendukung proses pemulihan ekonomi domestik. Di sisi lain, kenaikan ekspor akibat pemulihan global pada Desember 2020 akan mendukung pemulihan ekonomi nasional.

 Aktivitas ekonomi global diprediksikan terus meningkat, didorong oleh implementasi vaksinasi Covid-19 di banyak negara serta keberlanjutan stimulus kebijakan fiskal dan moneter. Pemulihan ekonomi global tersebut ditopang terutama oleh Tiongkok dan AS, serta sejumlah negara maju seperti Eropa dan Jepang, dan negara berkembang seperti India dan ASEAN. 

Perry menilai, pemerintah yang akan terus mengakselerasi ekspansi fiskal turut mendukung kemungkinan perbaikan pertumbuhan ekonomi tahun ini. “Tidak hanya bansos tapi juga ekspansi belanja modal pembangunan infrastruktur,” ujarnya.

Dengan adanya stimulus fiskal, konsumsi masih akan tumbuh pada tahun ini. Penjualan eceran dan ekspektasi konsumen diramal juga masih akan naik.

Selain itu, lima langkah kebijakan akan menopang prospek pertumbuhan ekonomi tahun ini yakni pertama, pembukaan sektor-sektor produktif dan aman secara nasional maupun di masing-masing daerah. Kedua, akselerasi stimulus fiskal. Ketiga, penyaluran kredit perbankan dari sisi permintaan dan penawaran.

Keempat, berlanjutnya stimulus moneter dan makroprudensial. Kelima, percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan, khususnya terkait pengembangan UMKM.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kenaikan kasus Covid-19 yang signifikan menjadi alasan perpanjangan kebijakan PPKM. Dari 7 provinsi, hanya dua yang mengalami penurunan kasus yakni Banten dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 

“Dari hasil evaluasi, Presiden meminta PPKM diperpanjang sampai 8 Februari,” kata Airlangga saat konferensi pers, Kamis (21/1).

Airlangga menjelaskan dari 73 kabupaten dan kotamadya di Provinsi yang menjalankan PPKM, kasus Covid-19 di 52 kabupaten dan kotamadya mengalami kenaikan. Sedangkan hanya 21 daerah yang mengalami penurunan kasus. Kasus aktif di 46 kabupaten dan kotamadya juga mengalami peningkatan. 

Adapun 24 wilayah mengalami penurunan kasus aktif dan 3 tetap. Airlangga juga menyampaikan, kenaikan angka kematian juga terlihat di 44 kabupaten dan kotamadya. Sedangkan jumlah kabupaten dan kota yang melaporkan penurunan kasus hanya 29. “Berdasarkan kesembuhan, 33 kabupaten dan kota mengalami penurunan, 34 meningkat dan sisanya tetap,” kata Airlangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *