Jokowi hingga Erdogan Dongkrak Vaksin Sinovac

2 min read


Nama Sinovac boleh jadi tidak setenar Sinopharm dalam tataran penelitian dan pengembangan vaksin yang menjadi solusi dalam mengatasi pandemi Covid-19. Pamor Sinovac terdongkrak setelah Presiden Joko Widodo hingga Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan disuntik vaksin buatannya.

Sinovac dan Sinopharm menggunakan metode yang sama, yakni melemahkan virus (inaktif) yang kemudian partikelnya dipakai untuk membangkitkan imun tubuh agar bisa mengenali virus corona tanpa menghadapi risiko infeksi serius.

Namun, yang merupakan perusahaan pelat merah itu telah mengantongi izin edar vaksin secara terbatas dari otoritas obat-obatan Tiongkok per 30 Desember 2020. Sebelumnya, vaksin Sinopharm telah dinyatakan aman dengan tingkat efikasi yang mencapai 79,34%.

Dominasi Sinopharm pun sejak saat itu makin meluas di wilayah daratan berpenduduk 1,4 miliar jiwa itu, apalagi sebelum izin keluar telah melakukan simulasi distribusi ke 31 provinsi di Tiongkok.

Penggunaan vaksin Sinopharm di beberapa kota besar di Tiongkok pun masif, meskipun secara terbatas hanya pada sembilan kelompok masyarakat berisiko tinggi. Di antaranya, petugas inspeksi bea cukai, operator transportasi publik, dan warga yang hendak bepergian ke luar negeri untuk tujuan bekerja atau belajar.

Setelah mendapatkan kepercayaan luas di Negeri Tirai Bambu, Sinopharm yang memiliki dua laboratorium biosecurity di Wuhan dan Beijing itu kemudian berupaya meningkatkan kapasitas produksinya dari 12 juta dosis menjadi 1 miliar dosis dalam satu tahun.

Berikut adalah Databoks pembelian vaksin Covid-19 oleh Indonesia: 

Bagaimana dengan Sinovac?

Berbeda dengan Sinopharm, Sinovac masih belum mengantongi izin edar di Tiongkok (setidaknya sampai tulisan ini diturunkan). Sebab, Sinovac menunggu hasil uji klinis tahap ketiga di Brazil, Turki, dan Indonesia.

Walau begitu Sinovac juga telah digunakan secara terbatas untuk keperluan darurat di tiga kota di Provinsi Zhejiang, yakni Yiwu, Jiaxing, dan Shaoxing.

Di Tiongkok sebenarnya bukan hanya ada Sinopharm dan Sinovac. Ada institusi lain, seperti CanSino yang juga mengembangkan vaksin Covid-19.

Namun sampai sekarang memang baru Sinopharm yang sudah mendapatkan izin edar resmi secara terbatas. Beberapa negara di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain menggunakan produk Sinopharm.

Dikutip dari Antara, pemerintah Indonesia memilih Sinovac karena perusahaan itu merupakan yang pertama dan paling rajin mengajukan penawaran. Yang tidak kalah penting, kesedian Sinovac untuk mentransfer teknologi vaksin kepada perusahaan nasional, Biofarma.

Oleh sebab itu, tidak heran kalau pengiriman tahap ketiganya dari Beijing menuju Indonesia pada Selasa (12/1/2021) sebanyak 15 juta dosis dilakukan dalam bentuk curah sehingga bisa dikembangkan dan dikemas lebih lanjut oleh Biofarma.

Dikeluarkannya sertifikat halal oleh Majelis Ulama Indonesia dan keamanan penggunaan oleh Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) RI terhadap vaksin CoronaVac pun membuat Sinovac lega.

Vaksin CoronaVac yang disuntikkan kepada Presiden Joko Widodo pada Rabu (13/1/2021) makin menumbuhkan rasa percaya diri Sinovac. Apalagi, dua hari setelahnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga disuntik dengan vaksin yang sama.

“Vaksin CoronaVac efektif dan aman,” ujar CEO Sinovac Biotech Yin Weidong dalam jumpa pers di Beijing setelah menyaksikan siaran langsung penyuntikan vaksin kepada Presiden Jokowi itu.

Dengan penuh keyakinan, dia pun menyebutkan bahwa tingkat efikasi vaksin buatannya di Turki mencapai 91,3%, sedangkan di Brazil dan Indonesia bisa mengatasi kasus infeksi ringan, masing-masing 78% dan 65,3%.

Sejauh ini tidak ada laporan mengenai dampak serius dari vaksin buatan Sinovac itu. “Saya merasa normal saja, tidak ada rasa yang berbeda sebelum dan sesudah disuntik vaksin,” kata Kepala Pusat Kesehatan TNI Mayor Jenderal Tugas Ratmono setelah disuntik CoronaVac.

“Saya enggak ada apa-apa, enggak ada bengkak, enggak pingsan, masih hidup, tetap ngegas,” tutur dr Tirta Mandira Hudhi, salah seorang influencer, setelah menerima suntikan vaksin di Puskesmas Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (14/1/2021).

Imbauan vaksin pun makin meluas ke seantero Nusantara, baik melalui tanda pagar maupun foto diri di medsos dengan beraneka ragam nama institusi dan organisasi.

“Saya juga telah memerintahkan agar proses vaksinasi pada kurang lebih 181,5 juta rakyat Indonesia bisa diselesaikan sebelum akhir tahun 2021 ini,” kata Presiden Jokowi.

Bagaimanapun, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengingatkan agar masyarakat tak lengah menjalankan protokol kesehatan meski program vaksinasi mulai berjalan. Gerakan 3M, yakni menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun harus tetap berjalan.

Sebab, menurut juru bicara IDI Iris Rengganis, vaksin Covid-19 perlu disuntikkan dua kali dengan jeda sekitar dua pekan. Vaksin juga tak otomatis langsung memberi kekebalan pada penggunanya.

“Zat kekebalan yang dibuat oleh vaksin itu tak langsung, tapi membutuhkan waktu dua minggu setelah vaksinasi. Baru terbentuk zat antibodi atau kekebalan,” kata Iris dalam diskusi daring, Jumat, 15 Januari 2021.

Iris mengingatkan, pandemi Covid-19 masih berlangsung di seluruh dunia. Vaksinasi adalah cara untuk menciptakan kekebalan kelompok alias herd immunity. Kekebalan kelompok ini baru berhasil jika divaksinasi itu 70% penduduk.

Di Indonesia yang berbentuk kepulauan, tentu perlu waktu untuk mencapai vaksinasi terhadap 70% penduduk. “Karena itu, tetap jelaskan protokol kesehatan meski kita sudah divaksin,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *