Rahasia di Pulau Ikaria, Immune System, Covid-19, dan Umur Panjang

6 min read


KOPI, Jakarta – Pulau Ikaria adalah bagian dari negara Yunani, terletak di sebelah timur Laut Mediterania. Di pulau ini 1 dari 3 orang berusia hingga 90 tahun. Bahkan mereka yang berumur lebih dari 100 tahun mudah sekali ditemukan di pulau ini.

Banyak peneliti sudah pergi ke Ikaria, dan berbagai media dunia telah menulis tentang pulau di mana warganya lupa pada kematian. Sakit pun nyaris tak dikenal di pulau ini. Angka penderita kanker nyaris tak ada, begitu juga penderita penyakit jantung, diabetes, dan obesitas. Bahkan dimensia (pikun) dan alzheimer nyaris tak dikenal di pulau ini. Juga jika kita googling, tak ada data atau informasi yang bisa ditemukan mengenai warga Ikaria yang positif Covid-19 sepanjang tahun 2020 lalu.

Polisi tak diperlukan di pulau ini. Semua saling menjaga perilaku masing-masing. Privacy tentu saja tak diperlukan di pulau ini, padahal privacy adalah aturan atau batasan yang paling dianggap penting di seluruh dunia.

Apa saja rahasia warga Ikaria ini agar bisa selalu sehat hingga berumur panjang?

Stamatis Moraitis seorang warga Amerika mengalami sesak nafas saat usianya 65 tahun. Ia pun pergi ke dokter dan mendapat diagnosa, bahwa ia terkena kanker paru yang ganas. Usianya diperkirakan tinggal beberapa bulan lagi.

Ia tak percaya dengan hasil pemeriksaan dokter itu. Ia pun pergi ke 9 dokter lain dan hasilnya sama.

Moraitis sebenarnya berasal dari pulau Ikaria, Yunani. Ia telah merantau ke Amerika setelah perang dunia 2 dan menetap di Amerika setelah menikah dengan Elpiniki, seorang perempuan Amerika, namun keturunan Yunani. Sayangnya setelah puluhan tahun hidup mapan di Amerika bersama istri dan anak-anaknya, ia didiagnosa dokter menderita kanker paru stadium akhir. Karena itu ia memutuskan untuk pergi ke tanah kelahirannya di pulau Ikaria dan ingin wafat di sana. Bersama istrinya ia pun pergi ke Ikaria.

Moraitis pulang ke orangtuanya yang masih hidup dan sehat. Tentu saja teman-teman masa kecilnya menyambut dan menemani Moraitis yang terbaring saja di tempat tidur. Tiap hari Moraitis ngobrol berjam-jam bersama teman-temannya yang menikmati wine yang mereka buat sendiri dari anggur yang mereka tanam sendiri di kebun mereka sendiri pula. Moraitis pun akhirnya ikut menikmati wine itu, dengan harapan bisa wafat dalam keadaan bahagia bersama teman-teman masa kecilnya.

Setelah beberapa hari pulang di Ikaria, Moraitis malah merasa lebih nyaman. Kesehatannya tidak bertambah buruk. Setelah sebulan ia malah merasa sehat. Beberapa bulan kemudian ia malah sudah ikut pergi bekerja di kebun dan ladang. Moraitis kemudian memiliki kebun dan ladangnya sendiri di mana ia menanam berbagai tanaman sayuran dan buah-buahan, tentu termasuk pohon zaitun dan anggur yang menjadi andalan warga Ikaria selama ratusan tahun.

Tahu-tahu waktu berlalu cepat tanpa terasa oleh Moraitis, ia telah tinggal selama lebih dari 35 tahun di pulau itu dan dalam keadaan sehat, aktif, dan mampu berkebun, berladang, serta menghasilkan 400 galon wine per tahun dari ladang anggurnya sendiri. Ia bahkan sempat jalan-jalan ke Amerika dan mencari dokter-dokter yang dulu telah memberinya diagnosa kanker, namun ternyata para dokter itu semuanya telah wafat. Sementara itu Moraitis sekarang berumur lebih dari 100 tahun.

Kisah Moraitis ini ditulis oleh BBC, The Guardian, dan New York Times dan berbagai media kelas dunia lainnya. Seorang penulis best seller bernama Dan Buettner menulis buku “The Blue Zones“. Ia menulis tentang orang-orang Ikaria yang berumur panjang ini. Ikaria hanya salah satu dari beberapa wilayah di seluruh dunia yang disebut the blue zones di mana penduduknya berusia panjang.

Mereka yang bisa mencapai usia 100 tahun disebut centenarian. Menurut PBB, jumlah centenarians di dunia terus bertambah setiap tahun. PBB memperkirakan saat ini ada 573,000 centenarians di berbagai tempat di seluruh dunia. Mereka tinggal di the blue zones seperti yang disebut oleh Dan Buettner dalam bukunya The Blue Zones. Sebelumnya pada tahun 1950 ada 23,000. Tahun 1990 ada 110,000. Tahun 1995 ada 150,000. Tahun 2000 ada 209,000. Tahun 2005 ada 324,000. Tahun 2009 ada 455,000.

The Blue Zones selain di Ikaria hanya ada 4 wilayah lain lagi di belahan dunia lain, yaitu: Okinawa Jepang, Nicoya Peninsula Costa Rica, Loma Linda California, dan Sardinia Italy. Apa rahasia umur panjang ini?

Para peneliti dan penulis berusaha menggali atau menemukan resep yang mungkin nanti bisa ditawarkan pada industri kesehatan dunia yang nilainya 70 milyar dollar per tahun tentang cara mendapatkan kesehatan prima dan umur panjang.

Ikaria disebut sebagai surga tanpa godaan bagi mereka yang ingin memiliki tubuh sehat. Mungkin saja itu karena Ikaria tak memiliki industri processed food yang bernilai 4 milyar dollar di seluruh dunia. Penduduk Ikaria tak perlu bersusah-payah untuk melawan godaan dan hipnotis dari industri processed food itu. Mereka tak perlu menjalankan disiplin yang melelahkan. Itu artinya makanan yang tersedia di Ikaria mungkin adalah semua makanan sehat. Ikaria juga tak mengenal industri kendaraan yang membuat mereka selalu berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya. Itu artinya mereka selalu aktif bergerak.

Ikaria adalah tempat murah untuk menjadi sehat dan berumur panjang. Padahal di seluruh dunia, industri vitamins dan supplements bernilai 30 milyar dollar per tahun di dunia hanya untuk membuat orang menjadi sehat di negeri-negeri maju. Bahkan ‘olahraga untuk kesehatan’ tak populer di Ikaria. Padahal itu juga industri yang bernilai puluhan milyar dolar. Penduduk Ikaria cukup berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya dan bekerja di ladang-ladang atau kebun-kebun mereka.

Apa yang membuat penduduk Ikaria berbeda?

Penduduk Ikaria sebenarnya tidak berbeda dengan warga di wilayah lain di dunia. Bahkan tidak berbeda dengan penduduk tempat lain di seluruh Yunani, termasuk penduduk pulau Samos yang berjarak hanya 8 mil dari Ikaria. Samos didiami oleh mereka yang memiliki kesamaan genetik dan memiliki kesamaan makanan dan minuman, juga udara yang sama, serta laut jernih yang sama.

Namun apa yang membuat Ikaria bisa memberikan kesehatan terbaik dan usia panjang yang tidak dimiliki oleh penduduk lain di kawasan Yunani itu dan di kawasan lain di dunia?

Dari berbagai penelitian dan tulisan mengenai Ikaria inilah sederet temuan yang muncul di Ikaria:

Mereka tak mengkonsumsi:

  • Makanan dan minuman yang diproses (processed food) atau diawetkan (kecuali wine). Produk dari industri makanan dan minuman di negeri maju “tak masuk” masuk ke Ikaria.
  • Gula. Mereka menggantinya dengan madu.
  • Makanan yang terbuat dari tepung gandum yang telah diproses (white flour).
  • Dairy products (makanan atau minuman yang terbuat dari susu hewan, seperti mentega, keju, dan lain-lain). Meski demikian mereka minum susu kambing yang mereka perah sendiri.

Mereka mengkonsumsi:

  • Apa yang mereka tanam di ladang dan kebun mereka.
  • Kentang, dan biji-bijian 6 kali lebih banyak daripada siapa pun di dunia ini.
  • Minyak zaitun tiap hari.
  • Roti yang dibuat secara tradisional dengan bahan stone-ground wheat.
  • Wine setidaknya 2 gelas setiap hari dan selalu bersama teman-teman.
  • Ikan setidaknya 2 kali seminggu, namun sedikit hewan darat yaitu hanya 5 kali sebulan.
  • Susu kambing yang mereka perah sendiri.
  • Madu.
  • Kopi 3 kali sehari.

Mereka tak mengenal apa yang disebut di peradaban modern sebagai olahraga, karena mereka sudah aktif bergerak setiap hari, karena harus bekerja di ladang atau harus memetik sayuran atau buah-buahan di kebun mereka, atau juga memerah susu kambing. Ikaria tak mengenal kata kegemukan atau obesitas.

Mereka hidup santai sekali, mereka tak bangun pagi sekali, dan selalu tidur siang, sehingga siang hari kehidupan seperti terhenti. Pada malam hari mereka sering berkumpul bersama-sama teman-teman untuk main kartu, berbincang, bernyanyi, berdansa, dan minum wine. Meski begitu mereka selalu punya sesuatu untuk dikerjakan di siang hari di ladang dan kebun mereka. Meski mereka memiliki profesi sebagai tukang kayu, misalnya, namun mereka pasti juga memiliki ladang atau kebun yang mereka kerjakan sendiri.

Tak ada privacy. Rumah mereka selalu terbuka untuk siapa pun. Mereka saling mengawasi perilaku masing-masing, tanpa merasa tersinggung. Namun tujuan utama rumah yang terbuka adalah untuk saling memberi social support satu sama lainnya. Tak ada satu orang pun yang kesepian di Ikaria.

Setiap orang yang berusia lanjut tidak tinggal sendiri atau tak seorangpun yang hidup sendirian, tetapi dengan anak-anak mereka. Jadi mereka tak pernah sendirian atau hidup kesepian. Masing-masing penduduk Ikaria seperti memiliki kewajiban untuk selalu memastikan tetangganya punya cukup makanan dan teman sepanjang hidupnya. Jika ada festival atau perayaan, semua orang akan memastikan semuanya mengikutinya tanpa ada yang ditinggal sendirian di rumahnya.

Hidup mereka tak bergantung pada berapa besar penghasilan, tapi bergantung pada apa yang mereka tanam atau hasilkan. Jadi mereka selalu punya makanan dan minuman, meski tak punya penghasilan. Mereka pun punya kebiasaan untuk memastikan orang lain punya sesuatu untuk dimakan. Angka 40% pengangguran di Ikaria itu berarti mereka tak bekerja untuk orang lain, namun bekerja untuk keluarga mereka sendiri, atau memiliki kebun atau ladang yang hasilnya membuat mereka tetap bisa hidup layak dan sehat, serta bahagia.

Mereka terus memiliki aktivitas sex meski sudah diatas 65 tahun bahkan saat mereka sudah berumur 100 tahun.

Sementara itu, berbagai riset neuroscience sejak 3 dekade terakhir menemukan ini:

  1. Mereka yang panjang umur berarti memiliki tubuh yang sehat.
  2. Mereka yang memiliki tubuh yang sehat, berarti memiliki sedikit stres atau depresi atau memiliki jiwa yang sehat atau kondisi kejiwaan yang baik. Atau dalam istilah neuroscience mereka memiliki positivity yang besar di otak mereka. Positivity adalah kata lain dari happiness.
  3. Mereka yang memiliki sedikit stres atau depresi, juga berarti memiliki spiritualitas yang bagus. Artinya mereka cenderung pada altruism (kebajikan). Seperti disebut oleh World Happiness Report, mereka memiliki social support (ikatan sosial yang kuat), dan kepedulian pada pada orang lain (generosity) yang kuat. Itu semua terlihat nyata di Ikaria.

Bagaimana cara penduduk Ikaria ini tak mudah stres atau depresi atau memiliki kondisi kejiwaan (positivity) yang bagus? Pertanyaan ini sebenarnya pertanyaan lama dan jawabannya sudah tersebar luas di berbagai media. Riset mengenai ini pun sudah amat banyak. Tinggal Googling saja. Namun untuk kasus Ikaria, nampaknya jawabannya adalah sebagai berikut:

Penduduk Ikaria memiliki mindset tertentu. Mindset mereka ini sudah tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan baik yang terbangun ratusan tahun di sana atau mereka saling menularkannya dan telah menjadi tradisi yang berurat-berakar di masyarakat hingga saat ini.

Beberapa riset menemukan, positivity (happiness) itu menular. Mereka yang datang dan tinggal di sana bisa tertular positivity yang dimiliki oleh penduduk Ikaria. Itu sebabnya. Moraitis menjadi sembuh dan kembali sehat walafiat, meski tadinya sudah divonis menderita kanker stadium akhir.

Ikaria sejak lama menjadi pulau yang populer bagi turis dari berbagai belahan bumi. Ada banyak orang yang ingin belajar dari warga Ikaria tentang bagaimana caranya agar tak gampang sakit atau bagaimana caranya memiliki immune system yang kuat agar terhindar dari COVID-19. Atau belajar tentang bagaimana hidup tanpa stres apalagi depresi agar tubuh selalu sehat dan jiwa selalu cenderung pada altruism.

Sayang sekali dunia sekarang sedang dicekam pandemi. Banyak yang ingin berkunjung ke sana setelah membaca kisah Ikaria. Namun kunjungan ke Ikaria tentu bukan pilihan yang bijak saat ini. Cukuplah sekarang kita menghayati berbagai temuan dari berbagai riset neuroscience untuk menjadi panduan kita dalam memiliki tubuh sehat dan berumur panjang, serta memiliki spiritualisme seperti yang dimiliki oleh penduduk Ikaria.

M. Jojo Rahardjo
Menulis ratusan tulisan dan membuat puluhan video tentang berbagai riset neuroscience yang bisa ditemui di website dan akun Facebooknya.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *