Nasib Ekspor Impor Bertumpu pada Pemulihan Ekonomi Tiongkok & AS

2 min read


  • Kinerja ekspor dan impor membaik pada Desember 2020.
  • Nilai ekspor pada Desember 2020, tertinggi sejak Desember 2013.
  • Kinerja ekspor impor tahun ini bergantung pada pemulihan ekonomi domestik dan negara utama perdagangan.

Kabar gembira datang dari kinerja ekspor dan impor yang membaik pada Desember 2020. Nilai ekspor bulan lalu bahkan mencatatkan capaian tertinggi sejak Desember 2013, ditopang kenaikan ekspor nonmigas ke Amerika Serikat dan India. Sementara kinerja perdagangan luar negeri pada tahun ini akan bergantung antara lain pada prospek pemulihan Amerika Serikat dan Tiongkok.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, ekspor pada Desember mencapai US$ 16,54 miliar, naik 8,39% secara bulanan dan 14,5% secara tahunan. Kinerja ini sangat menggembirakan di tengah pandemi, mengingat ekspor pada Desember biasanya menurun karena terdapat libur panjang. Sementara itu, impor naik 14,4% secara bulanan meski masih turun tipis 0,04% secara tahunan menjadi US$ 14,4 miliar.

“Kami berharap pertumbuhan ekspor impor ini akan stabil, tetapi kuncinya kembali ada pada penanganan kesehatan di Indonesia maupun beberapa negara tujuan utama ekspor,” ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam Konferensi Pers Pengumuman Ekspor Impor Desember, Jumat (15/1).

Suhariyanto berharap vaksinasi yang sudah dimulai di Indonesia dan sebagian besar negara tujuan utama ekspor Indonesia dapat mendorong pemulihan ekonomi dari dampak pandemi. Dengan demikian, kinerja ekspor dan impor dapat terus meningkat. 

Pada Desember, ekspor ke Amerika Serikat naik paling tinggi mencapai US$ 265,9 juta atau 16,57% dibandingkan November menjadi US$ 1,87 miliar. Disusul ekspor ke India yang naik US$ 254,6 juta menjadi US$ 1,22 miliar dan Korea Selatan US$ 822 juta menjadi US$ 578,7 miliar.

“Kenaikan ekspor ke AS disumbang paling besar oleh ekspor pakaian dan aksesoris,” kata Suhariyanto.

Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor nonmigas terbesar kedua Indonesia dengan porsi mencapai 12,08% dari total ekspor. Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan porsi ekspor mencapai 21,39%.

Ekspor Indonesia ke Tiongkok pada bulan lalu mencapai US$ 3,319 miliar pada Desember, naik US$ 1,8 juta dibandingkan bulan sebelummnya. Meski demikian, total ekspor Indonesia ke Tiongkok sepanjang tahun tahun lalu naik 19,31% dibandingkan 2019 menjadi US$ 29,93 milar.

“Barang utama yang kita ekspor ke Tiongkok pada Desember adalah besi dan baja, bahan bakar mineral, serta minyak dan hewan nabati,” ujarnya.

Bergantung pada Pemulihan AS dan Tiongkok

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, perbaikan kinerja ekspor dan impor dalam dua bulan terakhir dipengaruhi oleh perbaikan aktivitas perekonomian global termasuk ekonomi domestik. Ini ditandai oleh peningkatan PMI manufaktur di negara mitra dagang Indonesia, seperti Tiongkok, AS, India, dan juga Jepang.

“Kecuali Jepang, mitra dagang Indonesia tersebut sudah mencatatkan PMI lebih dari 50, yang berarti aktivitas manufaktur di negara tersebut sudah berada pada fase ekspansi,” kata Josua kepada Katadata.co.id.

Namun, menurut dia, aktivitas ekonomi Tiongkok masih akan cenderung lebih cepat dibanding negara lainnya. Kondisi ini diperkirakan masih akan menjadi pendorong utama kinerja ekspor Indonesia pada kuartal pertama tahun ini mengingat Negara Tembok Raksasa ini merupakan tujuan ekspor terbesar Indonesia. 

“Dalam jangka pendek,  surplus neraca dagang Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut didorong oleh laju pemulihan ekonomi yang lebih cepat di luar negeri,” kata dia. 

Suprlus neraca dagang tersebut akan menurun secara gradual jika kinerja impor mulai membaik karena kembali bergeraknya aktivitas manufaktur domestik. Aktivitas manufaktur Indonesia yang masih bergantung pada bahan baku dan barang modal asing akan menjadi pemicu kenaikan impor.

Pemulihan ekonomi Tiongkok antara lain terlihat dari data ekspor impor Desember yang berada di atas ekspektasi. Mengutip Reuters, ekspor Tiongkok melesat 18,1% secara tahunan, sedangkan impor naik 6,5% secara tahunan.

Ekonomi Tiongkok menjadi yang pertama pulih dari dampak Pandemi Covid-19. Pertumbuhan negara ini hanya terkontraksi pada kuartal pertama 2020, lalu tumbuh 3,2% pada kuartal kedua dan meningkat menjadi 4,9% pada kuartal ketiga 2020. ADB dalam outlook terbarunya menaikkan proyeksi ekonomi Tiongkok tahun ini dari tumbuh 1,8% pada ramalan September menjadi 2,1%, sedangkan proyeksi ekonomi tahun depan tumbuh 7,7%.

Selain Tiongkok, ekonomi AS juga diperkirakan akan mulai pulih pada tahun ini meski negara ini tengah menghadapi gelombang kedua Pandemi Covid-19. Ekonomi AS antara lain akan didukung oleh vaksinasi yang mulai berjalan dan rencana stimulus sebesar US$ 1,9 triliun yang akan digelontorkan saat Presiden Terpilih Joe Biden. 

Mengutip Wall Street Journal, para ekonom yang disurvei memperkirakan ekonomi AS pada tahun ini tumbuh 4,3%, lebih tinggi dari survei bulan lalu sebesar 3,7%.  Prediksi pertumbuhan 2021 terbaru, diukur dari kuartal keempat tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tahun lalu diperkirakan akan mengikuti kontraksi 2,5% pada 2020. Departemen Perdagangan akan merilis perkiraan pertumbuhan kuartal keempat dan 2020 pada 28 Januari.

Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah juga menilai perbaikan kinerja ekspor yang terjadi sejak semester kedua tahun lalu didukung oleh perbaikan ekonomi Tiongkok yang mendorong kenaikan harga komoditas. “Namun, impor yang masih turun sesungguhnya menunjukkan perekonomian kita masih jauh dari pulih. Masih ada masalah di sektor manufaktur yang belum bangkit dari pandemi,” katanya. 

Sepanjang kondisi manufaktur domestik belum pulih, menurut dia, Indonesia tetap akan menikmati surplus neraca perdagangan lantaran laju impor akan tetap terkendai. “Ketika impor mereda, surplus neraca perdagangan akan menurun. Namun, saya kira ini baru akan terjadi paling cepat pada semester kedua 2021,” katanya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *