Komjen Listyo Calon Kapolri, Bagaimana Persepsi Publik pada Bareskrim?

1 min read


Presiden Joko Widodo mengajukan Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai calon tunggal Kapolri. Surat pencalonan Listyo telah diterima oleh Ketua DPR RI Puan Maharani pada Rabu (13/1).

Komjen Listyo saat ini menjabat Kepala Badan Reserse Kriminal atau Kabareskrim. Bagaimana persepsi publik terhadap lembaga ini? Survei MarkPlus Inc menunjukkan, persepsi publik pada Bareskrim lebih rendah dibandingkan dengan kepuasan pengguna layanannya.

MarkPlus menilai, masyarakat yang pernah memiliki pengalaman melakukan pengaduan atau layanan dari penegak hukum di Indonesia memiliki perspektif berbeda dibandingkan dengan yang belum pernah merasakannya. Hal ini pun tercermin dari perbedaan hasil survei kepuasan pengguna dan persepsi publik.

Nilai rata-rata kepuasan pengguna layanan Bareskrim terhadap pelayanan, sumber daya manusia, dan sarana/prasarana pelayanan sebesar 4,85 atau cukup baik. Sedangkan nilai rata-rata persepsi publik terhadap kinerja, budaya, dan komunikasi terkait penindakan kriminal mencapai 3,75.

“Ada gap antara yang riil mengenai kepuasan layanan Bareskrim dengan persepsi. Jadi aksi Bareskrim on track. Tapi persepsi masih di bawah realita,” kata Deputi Chairman MarkPlus, Inc. Jacky Mussry dalam konferensi pers, Jumat (15/1).

Adapun, survei kepuasan pengguna layanan Bareskrim dilakukan kepada 351 responden lintas usia di seluruh Indonesia. Responden tersebut pernah menerima layanan Bareskrim dalam kurun waktu 2018 hingga 2020. Survei ini menggunakan metode Computer Assisted Telephone Interview (CATI) untuk kepuasan pengguna layanan dengan margin of error sebesar 5,23%

POLRI COPOT JABATAN BRIGJEN POL PRASETIJO UTOMO (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww.)

 

Di sisi lain, hasil survei persepsi publik terhadap kinerja, budaya, dan komunikasi terkait penindakan kriminal menunjukan angka rata-rata 3,75 dengan skala 1-6. Kinerja pelayanan mendapat skor tertinggi yaitu 3,96.

Sementara skor yang didapatkan pada aspek budaya pelaksanaan sebesar 3,35 dan aspek humanisme personel 3,63. “Ini menjadi pr untuk diperbaiki adalah persepsi bagian budaya. Khususnya budaya pelaksanaan dan humanisme personel,” kata Deputy Chairman MarkPlus, Inc. Taufik.

Adapun, persepsi budaya pelaksanaan ialah terkait penanganan penindakan kasus kriminal yang dilakukan secara baik, seperti tidak melakukan pungli atau membedakan kasus. Sedangkan, humanisme personel ialah penindakan kasus kriminal yang baik secara manusiawi.

Survei persepsi dilakukan kepada 1.502 responden umum dengan metode online survey. Responden pun memiliki usia bervariasi, mulai dari 18-25 tahun sebanyak 499 responden, 26-40 tahun sebanyak 502 responden, dan 41-55 tahun 501 responden.

Kedua survei tersebut dilakukan pada 19 November-3 Desember 2020 untuk memberikan gambaran bagi institusi pemerintahan sebagai bahan evaluasi kinerja. Survei ini menggunakan penghitungan margin of error sebesar 2,13%.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *