Dua Peneliti WHO Dicegah Masuk Wuhan untuk Selidiki Asal Mula Corona

1 min read


Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pemerintah Tiongkok melarang masuk dua anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berencana menyelidiki asal mula virus corona. Wall Street Journal (WSJ) menyebutkan pelarangan masuk Tiongkok karena keduanya terdeteksi positif antibodi Covid-19.

Keduanya terbukti positif antibodi dalam tes serologi berbasis darah selama transit di Singapura. Kemudian pejabat Tiongkok menghadang kedua anggota tersebut untuk menaiki pesawat tujuan Kota Wuhan, Tiongkok tengah,

“Keharusan kontrol pengendalian epidemi yang relevan harus ditegakkan secara ketat,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, saat konferensi pers, Kamis (14/1).

Pada Desember lalu, pemerintah Tiongkok telah mengizinkan tim WHO ke kota Wuhan menyetujui sebuah penyelidikan. Persetujuan ini diberikan setelah melalui proses negosiasi yang memakan waktu berbulan-bulan.

Tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh WHO tiba pada Kamis di pusat Kota Wuhan. Mereka tiba pagi hari dengan penerbangan murah dari Singapura dan diperkirakan akan menjalani karantina selama dua minggu.

Mereka sebelumnya dijadwalkan tiba pada awal Januari. Penundaan kunjungan mereka di Tiongkok itu menuai kritik dari kepala badan PBB tersebut –yang jarang dilakukan secara terbuka.

Peter Ben Embarek, ahli WHO untuk penyakit hewan yang menyebar ke spesies lain menjadi pemimpin 10 pakar independen itu.  Pada awal Juli lalu, Embarek juga pernah berangkat ke Tiongkok.

Hung Nguyen, ahli biologi Vietnam yang merupakan bagian dari tim, mengatakan kepada Reuters bahwa dia tidak mengharapkan ada pembatasan pada pekerjaan kelompok tersebut di Tiongkok, tetapi telah bersiap jika tidak menemukan jawaban yang jelas.

Setelah menyelesaikan karantina, tim akan menghabiskan dua minggu untuk mewawancarai orang-orang dari lembaga penelitian, rumah sakit, dan pasar makanan laut di Wuhan tempat patogen baru diyakini telah muncul.

Minggu lalu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Gheybreyesus mengatakan dia “sangat kecewa” bahwa Tiongkok masih belum mengizinkan masuk tim tersebut untuk misi yang telah lama ditunggu. Tetapi pada Senin (11/1), dia menyambut baik pengumuman rencana kedatangan mereka.

“Apa yang ingin kami lakukan dengan tim internasional dan mitra di China adalah kembali ke lingkungan Wuhan, mewawancarai ulang kasus awal secara mendalam, mencoba menemukan kasus lain yang tidak terdeteksi pada saat itu, dan mencoba melihat jika kita bisa mendorong kembali sejarah kasus pertama,” kata Ben Embarek pada November.

Tiongkok melalui media pemerintah menyebarkan informasi bahwa virus itu ada di luar negeri sebelum ditemukan di Wuhan. Pemerintah merujuk pada virus yang ditemukan di kemasan makanan beku impor serta pada makalah ilmiah yang mengklaim bahwa virus itu sebenarnya telah beredar di Eropa pada 2019.

“Kami mencari jawaban di sini yang dapat menyelamatkan kami di masa depan—bukan pelakunya dan bukan orang yang harus disalahkan,” kata pakar kedaruratan utama WHO Mike Ryan kepada wartawan pekan ini.

Ia menambahkan bahwa WHO bersedia pergi “ke mana pun dan di mana pun” untuk mengetahui bagaimana virus itu muncul.

Anggota tim Marion Koopmans, seorang ahli virologi di Pusat Medis Universitas Erasmus di Belanda, mengatakan terlalu dini untuk mengatakan apakah virus SARS-CoV-2 telah melompat langsung dari kelelawar ke manusia atau memiliki inang hewan perantara.

“Pada tahap ini yang saya pikir kami butuhkan adalah pikiran yang sangat terbuka ketika mencoba mundur ke peristiwa yang pada akhirnya menyebabkan pandemi ini,” ujar dia kepada wartawan, bulan lalu.

Covid-19, dari Wabah jadi Pandemi (Katadata)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *