Tahun Lalu, Pemerintah Impor Listrik Hingga 120 MW dari Malaysia

1 min read


Impor listrik dari Malaysia pada tahun lalu mencapai 100 hingga 120 megawatt (MW). Kehadirannya untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di Kalimantan Barat.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan pembelian setrum itu sebenarnya bentuk kerja sama antar kedua negara. Untuk tahap awal, Indonesia mendapat giliran pertama untuk menyerap listrik dari Negeri Jiran. 

Listriknya berasal dari Serawak Electricity Supply Corporation (SESCO). “Ini kerja sama ekspor-impor listrik,” katanya dalam konferensi per secara virtual, Rabu (13/1).  

Secara keseluruhan, rasio impor listrik ini hanya 0,54% dibandingkan total konsumsi nasional. Impor ini targetnya hanya sementara, sambil menunggu penyelesaian pembangkit di Kalimantan Barat.

Setelah itu, Indonesia dapat menjual listrik ke Malaysia melalui jalur yang sama. “Ini sesuai kesepakatan, untuk mengukur tingkat kemandirian energi listrik,” ujar Rida. 

Untuk realisasi investasi di sektor ketenagalistrikan sepanjang 2020 mencapai US$ 7 miliar atau sekitar Rp 97 triliun. Angkanya meleset 59% dari target. 

Rendahnya pencapaian tersebut karena sektor ini terimbas pandemi Covid-19. “Pembangunan pembangkit, transmisi, gardu induk, dan jaringan mundur,” katanya. Tahun ini rencananya nilai investasi dapat pulih dengan target US$ 11 miliar. 

Kementerian ESDM mencatat pembangunan pembangkit sepanjang 2020 mencapai 2.866,6 megawatt atau hanya 55% dari patokan pemerintah. Penambahan transmisi tercatat 2,648 kilometer sirkuit (kms) atau 59% dari target. Untuk gardu induk hanya 55% dari patokan atau 7.870 mega-Volt Ampere (MVA). 

Penambahan jaringan distribusi tercatat hanya 27.434 kilometer sirkuit atau 59% dari target. Sedangkan penambahan gardu distribusi mencapai 2.590 mega-Volt Ampere atau 81% dari rencana pemerintah. 

Jual-Beli Listrik Australia dan Singapura

Sebagai informasi, Australia sedang menggenjot pembangunan mega proyek pembangkit listrik tenaga surya alias PLTS terbesar di dunia. Tak tanggung-tanggung, proyek ini diproyeksikan menelan biaya sebesar 22 miliar dolar Australia (sekitar Rp 235 triliun).

Proyek yang digarap Sun Cable ini rencananya bakal mengekspor listrik ke Singapura melalui kabel bawah laut sepanjang 3.700 kilometer. Harapannya, ketika proyek mulai beroperasi di 2027, sekitar 20% kebutuhan listrik negara itu dapat terpenuhi.

PLTS jumbo tersebut bakal berada di lahan seluas 12 ribu hektare dengan dukungan penyimpanan baterai sebesar 30 gigawatt hour (GWh). “Proyek ini memanfaatkan teknologi tenaga surya kelas dunia Australia untuk mengekspor energi terbarukan dalam skala besar,” kata Menteri Industri, Sains dan Teknologi Australia Karen Andrews beberapa waktu lalu.

CEO Sun Cable David Griffin menyebut pembangunan PLTS itu merupakan tonggak penting untuk mewujudkan proyek Australian-ASEAN Power Link (AAPL). Perusahaan rintisan asal Singapura itu pun berencana menghubungkan PLTS jumbonya ke Indonesia di masa depan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *