PPKM Berlaku, MRT, Transjakarta, dan KRL Batasi Operasional

1 min read


Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali mulai berlaku hari ini, Senin (11/1). Transportasi publik termasuk salah satu sektor yang terkena pembatasan untuk menekan angka penyebaran Covid-19.

PT MRT Jakarta misalnya, selama PPKM hanya akan beroperasi pada pukul 05.00 sampai 20.00 WIB pada hari kerja, dengan rentang waktu keberangkatan setiap 5 menit pada waktu sibuk, dan setiap 10 menit di luar waktu sibuk.

“Pada akhir pekan, kereta beroperasi pukul 06.00 – 20.00 WIB, dengan selang waktu keberangkatan kereta setiap 10 menit. Meski ada pembatasan, sementara ini tidak ada penutupan stasiun MRT,” kata Kepala Departemen Corporate Communication MRT, Ahmad Pratomo, kepada Katadata.co.id.

Untuk mengantisipasi kepadatan penumpang, kapasitas dalam satu gerbong kereta juga dibatasi maksimal 67 orang. Selain itu akan ada marka atau stiker duduk dan berdiri di dalam kereta yang bertujuan agar masyarakat dapat menjaga jarak.

“Di samping itu, MRT Jakarta secara konsisten menerapkan protokol kesehatan di setiap area stasiun dan kereta. Kami mengimbau pengguna untuk disiplin dalam menerapkan gerakan 3M, menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan,” ujar dia.

Tidak hanya MRT, jumlah perjalanan kereta rel listrik (KRL) juga dibatasi selama PPKM dua minggu ke depan. VP Corporate Secretary PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Anne Purba mengatakan, KRL hanya akan melayani 964 perjalanan.

“Rangkaian kereta yang disediakan sebanyak 91 kereta, dengan jam operasional pukul 04.00 – 22.00 WIB. Kemudian lansia hanya dapat menggunakan KRL pada pukul 10.00 – 14.00 WIB,” ujar Anne kepada Katadata.co.id.

Databoks berikut menunjukkan penurunan jumlah penumpang saat PSBB pada masa awal pandemi 2020 lalu:

Meski demikian, jumlah perjalanan KRL yang dilayani pada pasa PPKM masih lebih banyak dibandingkan saat PSBB (pembatasan sosial berskala besar) awal pandemi lalu yang hanya melayani 683 perjalanan setiap harinya.

Menurut Anne, sejak adanya pembatasan kapasitas penumpang maupun jam operasional, KCI hanya mampu mengangkut 300 ribu orang per hari. Sementara pada masa PSBB transisi, volume pengguna commuterline di hari kerja mencapai 400 ribu orang.

Kendati jumlah penumpang kian menurun, Anne mengaku pihaknya tak lelah mengetatkan protokol kesehatan. Secara rutin, petugas commuterline mengukur suhu tubuh penumpang, wajib menggunakan masker, menjaga jarak juga mencuci tangan.

“Kami juga mengingatkan kepada pengguna agar mengikuti antrean penyekat menuju ke peron, khususnya pada jam-jam sibuk,” kata dia.

Selain mengetatkan protokol kesehatan, KCI melakukan upaya tambahan seperti membuka jendela pada area ujung KRL untuk menambah sirkulasi udara, serta penumpang yang diimbau untuk tidak berbicara selama perjalanan.

Sementara itu PT Transjakarta membatasi operasional busnya mulai pukul 05.00 – 20.00 WIB. Kapasitas penumpang dalam satu bus pun dibatasi maksimal 50%.

“Rinciannya, bus gandeng diisi 60 penumpang, bus sedang 30 penumpang, bus kecil 15 penumpang, dan angkutan mikro 5 penumpang,” kata Direktur Operasional Transjakarta Prasetia Budi.

Selain itu, tambah dia, Transjakarta juga mengimbau masyarakat untuk tinggal di rumah saja jika tidak ada keperluan mendesak, namun disiplin menjalankan protokol kesehatan jika terpaksa harus keluar rumah.

 Pengamat Transportasi sekaligus Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyebutkan, pembatasan kapasitas maupun jam operasional, tidak menyebabkan perubahan yang signifikan.

Pasalnya, beberapa moda transportasi khususnya bus telah menambah kapasitas terminal. “Meski dibatasi, mobilitas masyarakat juga cenderung tinggi. Ini tidak jadi masalah asal 3M tetap diterapkan,” kata Djoko.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *