Menilik Potensi Biodiesel & Energi Listrik Untuk Turunkan Emisi Karbon

2 min read


Sumber energi alternatif seperti biodiesel dan tenaga listrik disebut sebagai sumber energi ramah lingkungan karena menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Penggunaannya diharapkan bisa mengurangi produksi emisi di sektor transportasi.

Namun Koaksi Indonesia mengklaim penggunaan sumber energi alternatif seperti biodiesel dan listrik tidak sepenuhnya menyelesaikan permasalahan tersebut. Hal ini karena untuk memproduksi bahan dua jenis energi tersebut juga menghasilkan emisi yang tidak sedikit.

Koordinator Manajemen Keilmuan Koaksi Indonesia Ridwan Arif mengatakan bahwa energi biodiesel berbahan sawit menghasilkan emisi yang signifikan di proses hulu. Emisi dari proses memproduksi sawit tergantung pada jenis lahan yang digunakan.

“Kalau pakai lahan gambut, tentu emisinya akan lebih tinggi dibandingkan emisi yang dihasilkan minyak solar itu sendiri,” ujar Ridwan dalam media briefing Koaksi Indonesia bertajuk ‘Posisi Biodiesel dalam Transisi Energi di Sektor Transportasi’, Kamis (7/1).

Dia pun berharap ada kajian yang sama untuk mengukur produksi emisi dari energi berbasis listrik untuk memastikan apakah di sektor hulu ada bahan bakar alternatif yang benar-benar menghasilkan emisi lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil.

Saat ini kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional mencapai 1,3 -1,4 juta barel per hari (bph), sedangkan kapasitas produksi hanya sekitar 700-800 ribu bph. Artinya hampir separuh kebutuhan BBM nasional dipenuhi melalui impor.

Sektor transportasi pun berkontribusi hingga 27% terhadap produksi gas rumah kaca di Indonesia. Emisi karbon berdampak negatif pada kesehatan manusia yang menyebabkan kematian dini 44 ribu jiwa sepanjang 2018, dan menyebabkan kerugian negara hingga Rp 154 triliun dari sektor kesehatan.

Senada dengan Ridwan, Associate and Country Coordinator in IISD’s Energy Program, Lucky Lontoh, mengatakan bahwa jika biodiesel disandingkan dengan BBM yang memiliki oktan (RON) yang sama, maka emisi biodiesel lebih bersih.

Namun itu jika produksi biodiesel yang menggunakan sawit tidak membuka lahan baru yang akan mengurangi kemampuan alam Indonesia untuk menangkal emisi dari kegiatan ekonomi.

“Kalau itu terjadi di Indonesia, perimbangannya akan beda, biodiesel itu tidak akan lebih bersih daripada yang mau digantikan, tapi akan merusak,” ujar dia.

Lucky menjelaskan bahwa penting membicarakan dan membahas persoalan emisi dengan baik lantaran Indonesia merupakan bagian dari paru-paru dunia yang menentukan nasib perubahan iklim.

Dalam mendukung proses itu, Lucky menilai penting untuk pemerintah membuat target dan peta jalan (roadmap) yang jelas agar publik dan investor mengetahui tren dan prospek kendaraan energi terbarukan ke depannya.

Selain itu konsistensi untuk memanfaatkan energi terbarukan berkelanjutan juga dinilainya tidak kalah penting. Sebab, beberapa tahun lalu, lanjutnya, Indonesia sempat menggalakkan penggunaan bahan bakar gas. “Tapi saat ini programnya seperti hilang dan tidak ada lagi,” kata dia.

Sama halnya dengan mobil listrik. Menurut periset Institut Essential Services Reform, Julius Christian, kendaraan listrik memproduksi emisi yang lebih kecil dibandingkan kendaraan konvensional. Namun, hal tersebut tidak didukung data terkait emisi yang dihasilkan dari proses produksi mobil listrik.

Dia mencontohkan pada produksi baterai mobil listrik yang masih menggunakan batu bara sebagai sumber energi. Padahal emisi yang dihasilkan batu bara relatif tinggi.

Selain baterai, dalam memproduksi mobil listrik membutuhkan material yang lebih banyak lantaran membutuhkan kekuatan lebih untuk menyokong baterai. Dia menyebutkan, jika emisi dari seluruh proses produksi kendaraan listrik diperhitungkan, maka emisinya lebih tinggi dibandingkan dengan proses yang berjalan saat ini.

“Jadi kalau misalnya kita hanya mengandalkan emisi pembangkitan yang seperti sekarang, tidak terlalu bermanfaat buat iklim. Bahkan, kalau kita meningkatkan pembangkit energi terbarukan sampai 23%, pengurangan emisinya masih sedikit,” ujarnya.

Berdasarkan data Koaksi, sektor industri juga memiliki kontrbusi yang cukup besar terhadap produksi gas rumah kaca, mencapai 31%. Salah satu yang menjadi sorotan yaitu industri pembuat kendaraan bermotor.

Meski demikian, Julius mengatakan bahwa jangan sampai hal-hal seperti ini mengurungkan niat untuk beralih ke kendaraan ramah lingkungan.

“Sebab, efek pengurangan emisi harus ditakar dalam jangka panjang selama beberapa tahun ke depan. Persoalan emisi produksi kendaraan listrik dapat diubah melalui kebijakan,” ujarnya.

Reporter/penyumbang naskah: Ivan Jonathan (magang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *