Terregra Gandeng Waskita Bangun Proyek Energi Terbarukan Rp 12,5 T

1 min read


PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Terregra Asia Energy Tbk membuat perjanjian kerja sama pembangunan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT). Waskita akan menjadi kontraktor engineering procurement construction (EPC) untuk pembangunan lima pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan dua pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan investasi Rp 12,5 triliun.

Direktur Utama Terregra Asia, Djani Sutedja, mengatakan memilih Waskita karena menganggap perusahaan pelat merah tersebut memiliki reputasi bagus, terutama dalam mengerjakan proyek-proyek infrastruktur besar. 

Lima pembangkit listrik yang berlokasi di Sumatera Utara ini memiliki power purchase agreement (PPA) dengan PLN dengan kapasitas masing-masing 2×3.5 MW (2 proyek), 2×4.9 MW (1 proyek) dan 2x5MW (2 proyek) atau total kapasitas PLTMH adalah 42.98 MW.

Sedangkan dua PLTA masing-masing berkapasitas 2×166 MW dan 3x45MW dengan total mencapai 467 MW. Kedua pembangkit tersebut telah selesai studi kelayakan dan perizinan lokasi. Adapun total kapasitas dari tujuh hydro power plant tersebut yakni sebesar 509.98 MW.

Commercial on date (COD) ditargetkan untuk PLTMH 24 bulan dari saat pembangunan, sedangkan untuk PLTA 36 bulan,” kata Djani dikutip berdasarkan keterangan tertulis, Selasa (5/1).

Direktur Operasi Waskita Karya, Gunadi Sukardjo, mengatakan Waskita fokus pada pembangunan infrastruktur berupa jalan tol dan infrastruktur lainnya termasuk pembangkit listrik. Hingga kini perusahaan memiliki aset infrastruktur konektivitas pada 17 ruas jalan tol sepanjang 909 kilometer (km) senilai Rp 60 triliun.

Namun, selain jalan tol, Waskita juga membangun proyek-proyek EBT di Indonesia yang menjadi program nasional dengan target bauran EBT sebesar 23% di 2025.

Senior Vice President EPC Division Waskita Karya Jose Rizal mengatakan Waskita siap mendukung Terregra Asia. Khususnya sebagai kontraktor EPC baik dari perencanaan maupun pelaksanaan dalam pembangunan tujuh proyek ini.

Adapun Direktur Keuangan Terregra Asia, Daniel Tagu Dedo, menjelaskan sumber pembiayaan proyek dengan nilai Rp 12,5 triliun ini akan dipenuhi melalui skema debt financing dan equity financing yang melibatkan lembaga pembiayaan dalam negeri.

“Aksi korporasi yang sedang disiapkan oleh Terregra Asia Energy adalah rights issue dan penerbitan green bond dalam rangka mendukung pembangunan power plant renewable energy yang baru saja ditandatangani,” ujarnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hingga Oktober 2020, realisasi investasi di sektor energi baru mencapai US$ 17,7 miliar atau sekitar Rp 251 triliun. Rinciannya, energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) sebesar US$ 900 juta, mineral dan batu bara (minerba) US$ 2,8 miliar, kelistrikan US$ 5,8 miliar, serta minyak dan gas bumi (migas) US$ 8,1 miliar.

Pemerintah memperkirakan tahun 2021 akan ada perbaikan roda perekonomian dan iklim investasi seiring vaksinasi corona. “Situasi ekonomi akan mulai full recovery sehingga kami cukup optimistis target invetasi 2021 akan tercapai,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial pada diskusi Rencana Pembangunan Nasional Melalui Energi dan Pemanfaatan Hasil Laut, Senin (14/12).

Target investasinya di 2021 sebesar US$ 37,2 miliar atau sekitar Rp 528 triliun. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan patokan 2020 di US$ 35,9 miliar. Sektor migas masih menjadi tumpuan sebesar US$ 18 miliar. Lalu, listrik US$ 9,9 miliar, Minerba US$ 6,4 miliar, dan EBTKE US$ 2,9 miliar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *