Satgas Covid-19 Ingin Penanganan Pandemi Meniru Tiongkok


Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pandemi corona di Indonesia telah berjalan selama 10 bulan. Selama itu pula kasus Covid-19 terus meningkat dari hari ke hari. 

Melihat kondisi tersebut, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menyebut Indonesia seharusnya bisa meniru Tiongkok dalam penanganan pandemi. Pasalnya, negara tersebut mampu mengendalikan penyebaran virus bernama SARSCoV 2.

Selain itu, Indonesia dan Tiongkok memiliki kesamaan, yaitu jumlah penduduk yang besar. Di sisi lain, Tiongkok merupakan episentrum penyebaran virus corona sebelum menjadi pandemi di seluruh dunia.

Menurut dia,  kesuksesan Tiongkok dalam menangani pandemi dikarenakan reaksi yang sangat agresif oleh pemerintahnya. Terutama dalam pelaksanaan 3T yaitu tes, telusur, dan tindak lanjut (testing, tracing, and treatment).

Alhasil, kasus di Tiongkok pun terus menurun. Berdasarkan laman World O Meters, kasus baru Covid-19 di negara tersebut berjumlah 33 kasus, 432 kasus aktif, dengan total kasus mencapai 87.183. 

Di sisi lain, dia menyarankan pemimpin daaerah meniru Singapura dalam penanganan pandemi. Dia menilai negara tersebut mampu mengatasi pandemi.

Terlebih lagi, penduduk Singapura yang sedikit cocok diterapkan di berbagai wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan. “Artinya kalau kepemimpinan daerah dari wilayah kepulauan mencontoh ke Singapura, satu per satu kasusnya harusnya bisa rendah sekali seperti di sana,” kata Wiku dilansir dari Antara pada Selasa (5/1).

Berdasarkan data kasus Covid-19 yang disajikan laman World O Meters, kasus positif virus corona di Singapura berjumlah 28 kasus, 223 kasus aktif, dengan total 58.749 kasus. Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura Suryopratomo mengatakan negara masuk fase tiga sejak 28 Desember 2020 sehingga pengawasan relatif lebih longgar.

Jika sebelumnya warga hanya diperbolehkan makan di restoran dengan maksimal lima orang, Saat ini diperbolehkan makan dengan jumlah delapan orang. Selain itu, pertemuan yang sebelumnya maksimal 50 orang sekarang boleh 200 orang.

Hal itu dapat terjadi karena kurva penularan virus corona di negara tersebut sangat rendah bahkan tidak ada. Selain itu, pengawasannya pelaksanaan protokol kesehatan sangat ketat sejak April 2020 saat ditemukan 1.300 kasus aktif dari warga atau pendatang yang pulang dari Inggris.

“Sehingga ketat sekali. Praktis sekarang tidak ada penularan,” ujar Suryopratomo.

Bagikan:

Tinggalkan komentar