Belajar dari Suku Baduy Tangani Pandemi

1 min read


Sudah hampir setahun dilanda pandemi, Indonesia masih terus mengalami kenaikan kasus. Per tanggal 29 Januari 2021, kasus positifnya bahkan menyentuh 1,1 juta kasus. Seluruh provinsi di Pulau Jawa pun menempati posisi 5 teratas dengan total kasus aktif Covid-19 terbanyak dalam seminggu terakhir. Namun yang menariknya, di timur Pulau Jawa terdapat Suku Baduy yang hingga saat ini belum ada masyarakatnya yang dinyatakan positif Covid-19.

Hal ini dikonfirmasi oleh Petugas Medis Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Cisimeut Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Iton Rustandi (20/1). Melansir dari CNN Indonesia, Iton menyebutkan ini berkat masyarakat Baduy yang mematuhi protokol 3M yaitu selalu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

“Kami mengapresiasi warga Baduy dapat mengendalikan Covid-19 itu,” katanya. Upaya ini diperkuat dengan adanya imbauan tetua adat kepada masyarakat Baduy untuk tidak keluar daerah seperti Jakarta, Tangerang, dan Bogor. Pasalnya, tiga wilayah tersebut merupakan pusat penyebaran virus.

Dibarengi dengan itu, pihak Puskesmas juga mengoptimalkannya dengan memberikan edukasi mengenai bahaya virus Corona kepada warga Baduy. Iton beserta tenaga kesehatan lain di Puskesmas juga terus memantau dan mengendalikan Covid-19 dengan membagikan masker ke permukiman dan melakukan penyemprotan disinfektan. Tak hanya itu, Puskesmas menyediakan wastafel di sepanjang pintu gerbang masuk kawasan permukiman Baduy.

Sudah sejak lama Suku Baduy tidak banyak memiliki urusan dengan masyarakat di luar komunitasnya. Kebanyakan akvititasnya adalah berada di rumah dan pergi meladang. Melansir dari pemberitaan Kompas.com, Tetua Adat Masyarakat Baduy sekaligus Kepala Desa Kanekes Jaro Saija pun menyatakan bahwa nihilnya kasus di Baduy merupakan hasil dari segala upaya bersama.

Upaya pencegahan dilakukan sejak virus Corona datang pertama kali di Tanah Air sejak awal Maret 2020 lalu. Warga Baduy dilarang untuk bepergian keluar wilayah Baduy. “Warga Baduy yang ada di perantauan diperintahkan untuk langsung pulang, semua pulang dari Jakarta, Tangerang, Bandung,” katanya.

Selama pandemi, masyarakat Baduy sepakat untuk membatasi kunjungan yang datang. Jika ada wisatawan yang datang, mereka harus mengikuti protokol kesehatan. Tak hanya itu, masyarakat setempat juga diwajibkan untuk memakai masker.

Selain upaya menekan penyebaran virus dengan mematuhi protokol kesehatan, cara tradisional pun dilakukan oleh komunitas Suku Baduy. Saija menyebutkan bahwa doa bersama kerap dipanjatkan untuk meminta keselamatan bagi warga Baduy.

“Beberapa waktu lalu bersama Jaro Tangtu kita kumpul, berdoa, nyareat-lah istilahnya untuk keselamatan warga Baduy, kita pagari juga batas-batas wilayah dengan doa, ada mantra-mantranya,” kata Saija menjelaskan.

Suku Baduy atau Urang Kanekes merupakan masyarakat adat yang menetap di kaki pegunungan Kendeng di Desa Kanekes. Berjarak 40 kilometer dari pusat Kota Lebak, Banten, masyarakat di dalamnya terbagi ke dalam tiga kelompok. Adapun tiga kelompok tersebut adalah Baduy Dangka, Baduy Luar, dan Baduy Dalam.

Baduy Dangka merupakan orang Baduy yang sudah beradaptasi dengan modernitas, tidak terikat adat istiadat, mengenyam pendidikan, dan menggunakan teknologi modern. Baduy Luar merupakan masyarakat yang masih tinggal di tanah adat dan menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, namun sudah menerima pendidikan dan memahami teknologi. Lalu Baduy Dalam yang tinggal di wilayah adat dan menolak pendidikan atau teknologi.

Pada sistem pemerintahan, Suku Baduy memadukan aturan negara dengan sistem adat. Baduy memiliki kepala desa sebagai simbol pemerintahan, sekaligus terdapat tetua adat yang memiliki peran terkait keputusan-keputusan komunal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *