WeWork Kaji Empat Peluang saat Bisnis Coworking Space Tertekan Corona

1 min read


Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Bisnis ruang kerja bersama atau coworking space tertekan pandemi corona, karena pemerintah mengimbau masyarakat bekerja dari rumah. Namun, perusahaan coworking space asal Amerika Serikat (AS) WeWork melihat empat perubahan kebiasaan yang bisa menjadi peluang.

Tren pertama, Head of Growth, Southeast Asia, WeWork Elizabeth Fuller mengatakan bahwa ada banyak korporasi yang berpindah dari kantor pusat ke ruang kerja yang fleksibel dan menyebar. Konsep kerja pun berubah menjadi ‘work-to-people’

Kedua, kebijakan kerja yang fleksibel menjadi situasi normal yang baru. Alhasil, banyak perusahaan yang memanfaatkan teknologi seperti ruang pertemuan online atau absensi virtual.

Ketiga, pandemi Covid-19 mendorong banyak perusahaan berkolaborasi untuk mendongkrak produktivitas pegawai. Terakhir, badan usaha menginginkan ruang kerja yang didesain dengan pertimbangan aspek kesehatan dan keselamatan guna meminimalkan risiko penularan virus corona.

“Banyak klien yang menerapkan work from home. Ini berdampak pada WeWork dan industri coworking space,” kata Elizabeth saat konferensi pers virtual, Selasa (26/1).

WeWork melihat keempat perubahan kebiasaan itu sebagai peluang. Perusahaan coworking space ini pun menyediakan layanan kantor pribadi atau dikenal kantor satelit.

Lalu, memfasilitasi pemisahan tenaga kerja klien ke lokasi yang berbeda, namun tetap dekat dari sisi jarak. Selain itu, menyediakan lantai khusus untuk tim tertentu.

WeWork juga memungkinkan klien memesan lebih dulu, meski belum menentukan kapan akan memakai coworking space. Resevasi pemesanan ruang kerja atau
konferensi pun bisa dilakukan per jam atau per hari.

Inovasi tersebut dilakukan karena kinerja WeWork tertekan pandemi corona pada tahun lalu. Bloomber melaporkan, pendapatan perusahaan turun 8%. Total keanggotaan juga melorot 11%.

WeWork memperoleh penjualan US$ 811 juta untuk kuartal III 2020. Sedangkan, arus kas negatif US$ 517 juta.

Perusahaan juga melepas 66 lokasi coworking space dan menegosiasikan ulang sewa dengan tarif yang lebih rendah. “Covid-19 terus menjadi tantangan unik dan tidak pasti yang harus kami kelola secara aktif,” kata Chief Executive Officer WeWork Sandeep Mathrani dikutip dari Bloomberg, November tahun lalu (12/11/2020).

Secara global, pasar coworking space turun dari US$ 9,27 miliar pada 2019 menjadi US$ 8,24 miliar tahun lalu. Padahal, data Coworker Member’s Choice Awards pada 2019 menunjukkan, sekitar 77% operator berencana ekspansi. Rencana ini disusun sebelum adanya virus corona.

Pada 2018, startup coworking space bahkan menjadi salah satu sektor yang diminati oleh investor. Secara rinci dapat dilihat pada Databoks berikut:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *