Program Konversi Pembangkit Diesel ke Gas Terganjal Nilai Keekonomian

1 min read


Program konversi diesel ke gas untuk pembangkit listrik masih terganjal nilai keekonomian. Padahal, PT Perusahaan Gas Negara Tbk alias PGN telah berkomitmen untuk menggarap proyek gasifikasi 52 pembangkit listrik tenaga diesel atau PLTD milik PLN.

Direktur Utama PGN Suko Hartono menyebut selama proses pembahasan konversi berlangsung, PLN selaku pemilik PLTD tak terbuka. Hal ini terutama terkait data kebutuhan gas yang dibutuhkan untuk proyek gasifikasi. Data yang selama ini dipaparkan PLN menjadi tidak masuk dalam hitungan keekonomian perusahaan. 

Ia pun meminta supaya perusahaan setrum negara itu terbuka soal pemanfaatan alokasi gas. “Sebagai contoh, PLTD kapasitasnya 120 megawatt (MW) tapi gasnya cuma pakai 2 miliar sampai 3 miliar British Thermal Unit per hari (BBTUD),” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama komisi VII, Rabu (27/1).

Kondisi tersebut menjadi tantangan untuk komersialisasi gas PGN. Di sisi lain, proyek tersebut merupakan penugasan pemerintah yang tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 13 Tahun 2020.

Perusahaan sebelumnya menyebut akan menyelesaikan gasifikasi di tiga pembangkit PLN. Ketiganya adalah pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) Nias, Tanjung Selor, dan Sorong. 

PLTMG Nias memiliki kapasitas gas 4,7 miliar British Thermal Unit per hari. Anak usaha Pertamina itu berharap bisa segera merealisasikan proyek ini. Pembangunannya direncanakan dalam waktu dekat berupa sarana penyimpanan gas alam cair atau LNG di darat. PGN jgua akan menyiapkan infrastruktur penyokong kapal untuk membawa LNG dari Arun ke Nias. 

Selanjutnya, PLTMG Tanjung Selor bakal membutuhkan volume gas sebesar 2 miliar British Thermal Unit per hari. PGN tengah menyiapkan infrastruktur termasuk sarana transportasi untuk membawa gas dari Bontang ke Tanjung Selor.

Untuk PLTMG Sorong, PGN masih dalam tahap pembahasan dengan PLN. Khusus untuk proyek tersebut, PGN bekerja sama dengan perusahaan daerah untuk melaksanakan konversi pembangkit listriknya.

Gasifikasi Pembangkit untuk Kurangi Impor BBM

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini sempat mengatakan proyek gasifikasi bertujuan untuk mengurangi biaya operasi pembangkit. Langkah ini juga mendukung upaya pemerintah mengurangi impor bahan bakar minyak atau BBM. 

Dengan begitu, defisit neraca perdagangan pun berkurang. “PLN telah melakukan identifikasi untuk perencanaan konstruksi pembangkit,” ujar Zulkifli beberapa waktu lalu.

Konsumsi BBM untuk pembangkit listrik pada 2019 mencapai 2,6 juta kilo liter (KL). Kebijakan gasifikasi pembangkit listrik akan menghemat konsumsinya menjadi sebesar 1,6 juta kiloliter. “Estimasi pengurangan biaya operasi sebesar Rp 4 triliun,” kata Zulkifli pada pertengahan tahun lalu. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *