Rapor Traveloka saat Corona: Pengguna Naik 100%, Staycation jadi Tren

1 min read


Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Startup penyedia jasa pariwisata berbasis digital atau online travel agent (OTA), Traveloka mencatatkan pertumbuhan beberapa layanan di tengah pandemi corona. Jumlah pengguna harian juga meningkat 100% selama tahun lalu.

Head of Corporate Communications Traveloka Reza Amirul Juniarshah tidak memerinci layanan apa saja yang transaksinya melonjak. Namun, ia mengatakan bahwa peningkatan penggunaan tecermin pada jumlah pengguna yang meningkat.

“Jumlah lengguna kami naik dua kali lipat pada 2020,” kata Reza saat konferensi pers virtual, Selasa (26/1). “Kami juga dapat pendanaan. Ini mencerminkan investor yang terus percaya.”

Untuk mendongkrak transaksi di tengah pandemi Covid-19, Traveloka melakukan beberapa inovasi. Pada April 2020 misalnya, perusahaan menyediakan fitur konten video Jendela XERU pada platform Xperience.

Kemudian menghadirkan paket donasi mulai dari Rp 11 ribu hingga Rp 27 ribu per porsi untuk mendukung mitra restoran Traveloka Eats pada Mei 2020. Perusahaan juga menyediakan layanan uji tes risiko tertular Covid-19 di 44 kota pada Juni 2020.

Lalu, menyediakan promosi berupa flash sale melalui fitur siaran langsung (live streaming) di media sosial. Traveloka juga meluncurkan fitur Buy Now Stay Later untuk akomodasi dan Mesin Waktu dari Traveloka Xperience. Ini memungkinkan pengguna memesan layanan terlebih dulu, menginap atau bepergian ditentukan kemudian.

Unicorn Tanah Air itu juga menyediakan jasa tes cepat (rapid test) risiko tertular virus corona di Bandara Soekarno Hatta. Ini karena calon penumpang pesawat harus memiliki surat keterangan bebas Covid-19 berdasarkan hasil rapid test maupun PCR sebelum bepergian menggunakan transportasi udara.

Kemudian, Traveloka meluncurkan layanan tur virtual. Pada November 2020, perusahaan juga mengadakan event promosi yakni Traveloka Epic Sale yang mendongkrak transaksi hingga 13 kali lipat.

Startup jumbo itu pun gencar memasarkan produk dengan konten seputar staycation, roadtrip, dan lainnya yang sesuai dengan protokol kesehatan. Traveloka mencatat, Jakarta dan Bali menjadi kota favorit masyarakat untuk berlibur. Persentasenya, Bali 83%, Jakarta 30%, dan sisanya Yogyakarta, Jawa Barat, dan Lampung. 

Roadtrip atau berpergian dengan kendaraan pribadi juga menjadi tren. Sepanjang tahun lalu, 26% pengguna menyatakan sudah berlibur dan 72% dari mereka pergi keluar kota domisili menggunakan mobil pribadi,” kata Reza.

Kepada jurnalis Kr-Asia Khamila Mulia, Co-Founder Traveloka Albert Zhang mengatakan bahwa perusahaan bakal berfokus pada layanan finansial untuk meraih untung pada tahun ini. “Kami telah melihat peluang besar di sektor ini untuk melayani segmen yang tidak memiliki rekening bank,” kata dia, dikutip dari Kr-Asia, bulan lalu (1/12/2020).

Meski begitu, Albert mengatakan profitabilitas akan sangat bergantung pada pemulihan pasar. Di Vietnam, bisnis Traveloka sudah stabil karena kasus harian positif virus corona di negara itu sedikit. Sedangkan di Thailand, bisnis mulai pulih 75%.

Perusahaan berencana mengembangkan layanan fintech secara vertikal dan geografis. Perusahaan juga akan bermitra dengan bank-bank di Tanah Air dan memanfaatkan teknologi untuk menggaet lebih banyak pengguna baru pada 2021. 

Sejauh ini, Traveloka memiliki tujuh produk terkait keuangan yakni asuransi, poin, paylater, dompet digital melalui Uangku, isi ulang saldo, konektivitas dan data, serta international data plans.

Pengguna produk keuangan itu pun meningkat pada 2020. Untuk Traveloka Paylater misalnya, meningkat tujuh kali lipat. Sedangkan pengguna Traveloka Paylater Card naik lima kali lipat.

Traveloka juga menargetkan bisa menawarkan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) pada tahun ini atau 2022. “Namun, kami sedang mengevaluasi opsi potensial untuk Traveloka. IPO hanyalah salah satu opsi,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *