Kasus Covid-19 RI Nyaris Tembus 1 Juta, Rumah Sakit Makin Sesak

4 min read


Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Indonesia mencatatkan satu juta kasus Covid-19 dalam waktu kurang dari setahun. Jumlah pasien yang terinfeksi virus corona dan membutuhkan perawatan di rumah sakit pun semakin banyak. 

Alhasil, sejumlah rumah sakit tak lagi menampung pasien Covid-19. Para pasien yang berharap mendapatkan perawatan pun harus menanggung kecewa akibat tak tersedianya kamar perawatan.

Mereka pun dihadapkan pada pilihan menunggu di ruang IGD tanpa kepastian kesediaan tempat perawatan atau kembali ke rumah sembari mencari rumah sakit rujukan lainnya. Dalam pencarian ruang perawatan tersebut, tak sedikit pasien yang akhirnya meninggal dunia.

Co-Leader LaporCovid19 Irma Hidayana yang menyebut ada 34 aduan yang dia terima terkait masyarakat yang ditolak rumah sakit. Salah satunya pasien Covid-19 di Tangerang Selatan yang tak kunjung mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit pada pekan lalu.

Padahal pihaknya bersama keluarga pasien telah menghubungi 75 layanan kesehatan yang mencakup sistem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT), Dinas Kesehatan DKI, serta tim Menkes. “Namun hasilnya nihil. Pasien pun meninggal di puskesmas di Tangerang Selatan pada Kamis (21/1) lalu,” ujar Irma pada Senin (25/1).

Selain kasus di Tangerang Selatan, Irma mengkisahkan keluarga lain yang sangat kesulitan mencari kamar perawatan untuk pasien Covid-19. Awalnya, dia mendapatkan laporan bahwa ada satu orang ibu yang sudah demam tinggi, muntah-muntah, dan sesak nafas tidak bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit. Padahal, keluarganya sudah menghubungi sejumlah rumah sakit di Kota Depok dan Bogor. 

Pihak LaporCovid19 pun berupaya mencarikan ruang perawatan dengan mengontak lebih dari 10 rumah sakit.  Namun, tidak ada rumah sakit yang memiliki ruang kosong untuk ibu tersebut.

Pihaknya bersama keluarga pun memutuskan membawa sang Ibu ke IGD rumah sakit terdekat untuk mendapat tindakan. Begitu memasuki IGD, Irma tertegun karena melihat panjangnya antrean pasien.

Menurut Irma, kondisi tersebut membuat keluarga sang ibu kecil hati. Mereka pun memilih membawa pulang ibunya ke rumah sembari menunggu informasi rumah sakit yang kosong.

Beberapa waktu kemudian, Irma mendapatkan laporan bahwa ada ruang perawatan yang tersedia di salah satu rumah sakit yang berada di Jakarta Timur. Saat dihubungi Irma, sang dokter di rumah sakit tersebut mengatakan bahwa kapasitasnya sudah penuh, tetapi pada prinsipnya rumah sakit tidak akan menolak pasien.

Keluarga pun membawa sang ibu ke rumah sakit tersebut dengan harapan bisa mendapatkan perawatan yang layak. Namun setibanya di UGD, keluarga dan pihak LaporCovid kaget karena ternyata harus menunggu tujuh antrean pasien sebelum mendapatkan ruang perawatan. 

Mendapati kondisi tersebut, keluarga itu pun memilih membawa sang ibu kembali ke rumah meskipun kondisinya mengkhawatirkan. Menurut Irma, keluarga sudah lelah secara psikologis mencari rumah sakit.  

“Akhirnya keluarga berserah diri kepada yang maha kuasa karena sudah tidak sanggup lagi. Mereka pun membawa ibunya kembali pulang ke rumah dengan keadaan demam tinggi dan sesak napas,” ujarnya.

Menurut Irma, kasus-kasus serupa kerap kali terjadi, terutama di wilayah Jabodetabek. Berrdasarkan data Pandemic Talks, ketersediaan ICU dan tempat tidur di wilayah tersebut memang cenderung penuh.

Seperti DKI Jakarta yang sudah mencapai kapasitas 87% atau terisi 6.816 tempat tidur dari total 7.827 tempat tidur isolasi di 101 rumah sakit rujukan Covid-19. Sedangkan keterisian ICU sudah mencapai 871 tempat tidur dari 1.063 tempat tidur yang tersedia.

Selain di Jabodetabek, keadaan rumah sakit di beberapa daerah juga terpantau mengkhawatirkan. Seperti Lampung yang melaporkan tingkat keterisian tempat tidur mencapai 69% dengan total 590 dari 855 tempat tidur terisi. Angka tersebut sudah melebihi standar WHO yakni kurang dari 60%.

Jika dikalkulasikan, delapan dari 14 rumah sakit rujukan Covid-19 di Lampung sudah terisi 100% sehingga tidak dapat menampung pasien lagi. Perhitungan sederhana Pandemic Talks menunjukkan bahwa satu tempat tidur untuk pasien Covid-19 diperebutkan oleh 9.966 pasien di Lampung.

Pandemic Talks juga mencatat kondisi rumah sakit di Yogyakarta tak kalah pelik. Okupansi tempat tidur di rumah sakit rujukan di sana pun sudah terisi di atas 90% selama Januari 2021. Meski sudah ditambahkan sebanyak 728 tempat tidur, angka tersebut tidak kunjung turun lantaran kurangnya tenaga kesahatan untuk merawat pasien.

Adapun secara keseluruhan, ketersediaan layanan rumah sakit di seluruh Indonesia sudah mencapai sekitar 70%. “Sekarang sudah sangat mengkhawatirkan, terutama di Pulau Jawa ya,” ujar Olivia kepada Katadata.co.id, Jumat (22/1).

Olivia bahkan menyebut bahwa layanan rumah sakit di Jawa sudah dapat dikatakan kolaps. Sebab, kini pasien tak hanya ditolak pada satu atau dua rumah sakit, melainkan puluhan rumah sakit rujukan Covid-19.

Beberapa indikator lainnya ialah angka fatalitas kasus (CFR) di Indonesia yang cukup tinggi, bahkan untuk tolak ukur global. “Itu artinya banyak pasien yang tidak tertangani,”kata dia.

Di sisi lain, tingginya kasus Covid-19 dan jumlah pasien yang melonjak tajam menyebabkan kematian tenaga kesehatan terus meningkat. CISDI mencatat lebih dari 600 tenaga kesehatan tewas akibat terpapar Covid-19. 

Kondisi tersebut, menurut Kadep Biologi Molekular FK Unika Soegijapranata Semarang Sugeng Ibrahim, dapat menyebabkan layanan kesehatan menjadi pincang. Bahkan bisa saja layanan kesehatan di Tanah Air runtuh karena lebih dari separuh tenaga kesehatan terinfeksi.

Pentingnya Instalasi Rumah Sakit Darurat dan Integrasi Data

Dengan kondisi kolaps tersebut, Sugeng mengusulkan agar pemerintah menambahkan fasilitas kesehatan dalam jumlah yang besar. Bila belum bisa dalam bentuk rumah sakit darurat, pemerintah seharusnya menambah ruang ICU dan ruang isolasi di tiap-tiap rumah sakit.

Hal itu menjadi solusi utama untuk mengatasi penuhnya rumah sakit rujukan Covid-19 di Indonesia. Terutama di wilayah dengan peningkatan kasus Covid-19 seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makasar.

“Bukan yang setara dengan Wisma Atlet, tapi yang (level-nya) di atasnya sehingga bisa menampung pasien gejala sedang dan berat,” ujar Sugeng.

Sebab, persoalan penuhnya rumah sakit disebabkan oleh pasien dengan gejala sedang dan berat. Pasien-pasien tersebut memerlukan penanganan dan perawatan yang lebih lama.

Di sisi lain, pemerintah daerah mulai membenahi rumah sakit dan layanan kesehatan. Seperti Wisma Atlet Kemayoran yang hanya menampung pasien gejala ringan dan komorbid. Sedangkan pasien tanpa gejala dialihkan ke Wisma Atlet Pademangan. 

Koordinator Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Mayjen TNI Tugas Ratmono mengatakan pihaknya juga berupaya meningkatkan kapasitas layanan ICU dan HCU untuk menangani kasus yang lebih berat. 

Pasalnya, pasien yang datang ke Wisma Atlet belakangan ini sudah memiliki kondisi yang lebih berat. “Pasien kami dulu kebanyakan tidak bergejala. Sekarang pasien yang bergejala dan komorbid, ini mesti diantisipasi,” kata Tugas dalam konferensi pers virtual “Update Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet” pada Senin (25/1).

Walikota Bogor Bima Arya mengatakan pihaknya juga meningkatkan layanan kesehatan dengan membuka rumah sakit lapangan di GOR Kota Bogor. Menurut Bima, rumah sakit darurat tersebut ditujukan untuk pasien dengan gejala ringan dan komorbid. Sedangkan gejala sedang dan berat bisa ditangani di rumah sakit rujukan.

Secara total, rumah sakit itu memiliki 64 tempat tidur yang terdiri dari tujuh tempat tidur untuk IGD, dua untuk ICU, 50 tempat tidur untuk perawatan tekanan isolasi negatif. Hingga Senin (25/1), terdapat 29 pasien yang dirawat oleh 225 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, dan perawat. 

“Jika nanti kapasitasnya penuh hingga 64 tempat tidur, kami akan menambah tenaga kesehatan, mudah-mudahan minggu depan sudah bisa bertambah,” ujar Bima. 

Adapun total keterisian tempat tidur rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Bogor mencapai 70%. Angka tersebut lebih rendah dari dua minggu lalu yang mencapai di atas 80%.

Meski begitu, pihaknya terus berkoordinasi dengan pimpinan rumah sakit untuk terus meningkatkan ruang isolasi. Pasalnya, okupansi rumah sakit yang mencapai 70% masih di atas ambang batas WHO sebesar 60%.

Selain menambah rumah sakit, Bima juga menyebut pentingnya memiliki data rumah sakit yang terintegrasi. Oleh karena itu, dia berharap pemerintah pusat membangun sistem data rumah sakit agar koordinasi antar daerah bisa lebih baik.

Pasalnya, dia kerap menerima telepon dari warga luar daerah yang menanyakan ketersediaan rumah sakit di Kota Bogor. “Saya sering ditelepon oleh warga yang menyebut rumah sakit di Jakarta penuh, di Bogor bagaimana. Oleh karena itu kami sedang update datanya,” ujar dia. 

(Penyumbang bahan: Ivan Jonathan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *