Realisasi Investasi 2020 Naik jadi Rp 826 T Ditopang Investor Domestik

1 min read


Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat realisasi investasi sepanjang tahun lalu mencapai Rp 826 triliun, naik dibandingkan 2019 sebesar Rp 809,6 triliun. Realisasi investasi didorong oleh penyertaan modal dalam negeri (PMDN) yang masih tumbuh ditengah pandemi Covid-19. 

Kepala BKPM Bahlil lahadilala menjelaskan realisasi investasi pada tahun lalu melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 817 triliun. Namun, target realisasi investasi tersebut sudah dipangkas dari target sebelum pandemi Covid-19 sebesar Rp 886 triliun. 

Penanaman modal dalam negeri berhasil tumbuh 7% menjadi Rp 413,5 triliun, sedangkan penanaman modal asing turun 2,4% menjadi Rp 412,8 triliun. “Porsi PMDN dan PMA ini seimbang, bahkan domestik lebih tinggi sedikit. Ini mungkin pertama kali dalam sejarah,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers Pengumuman Realisasi Investasi Kuartal IV 2o20 di Jakarta, Senin (25/1). 

Realisais investasi pada tahun lalu mulai bergeser ke luar pulau Jawa dengan porsi investasi kini mencapai 50,5%. Meski demikian, lima provinsi yang mendapatkan investasi paling banyak masih berada di Jawa, yakni di Jawa Barat Rp 120,4 triliun dengan porsi mencapai 14,6%. Kemudian Jakarta mencapai Rp 95 triliun dengan porsi 11,5%, Jawa Timur Rp 78,3 triliun atau 9,5%,  Banten Rp 60,2 triliun atau 7,5%, dan Jawa Tengah Rp 50,2 triliun atau 6,1%. 

“Pulau Jawa saat ini sudah menjadi altenatif investasi. Tahun lalu, porsi investasi di luar Jawa masih mencapai 46,3%,” kata Bahlil. 

Bahlil bahkan mencatat penanaman modal asing saat ini lebih banyak di arahkan ke luar Pulau Jawa. Wilayah di Luar Jawa yang mendapatkan investasi terbesar pada tahun lalu adalah  Maluku Utara mencapai Rp 2,41 miliar. Maluku Utara berada diposisi ketiga tujuan investasi asing setelah Jawa Barat dan Jakarta. 

Singapura masih menjadi penanam modal terbesar mencapai US$ 9,78 miliar, disusul Tiongkok US$ 4,84 miliar, Hong Kong US$ 3,53 miliar, Jepang US$ 2,58 miliar dan Korea Selatan US$ 1,84 miliar. 

Sementara di dalam negeri, penanaman modal paling banyak masih di lakukan di Jawa Timur sebesar Rp 55,6 triliun, Jawa Barat Rp 51,66 triliun, Jakarta Rp 42,95 triliun, Riau Rp 34,11 triliun, dan Banten Rp 31,15 triliun. 

Ia memperkirakan investasi pada tahun ini akan lebih baik seiring dimulainya vaksinasi dan implementasi UU Cipta Kerja. BKPM menargetkan investasi pada tahun ini dapat mencapai Rp 900 triliun.

Head of Indonesia Research  & Strategy JP Morgan Henry Wibowo memprediksi aliran FDI ke Indonesia pada 2021 menyentuh rekor tertingginya. “Kami sangat optimis,” ujarnya.

Dia menjelaskan faktor utama pendorong aliran masuk investasi asing ke Indonesia yaitu disahkannya Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) pada Oktober 2020, yang aturan turunannya akan terbit pada Februari 2021. “Pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja akan menjadi reformasi kebijakan terbesar di negara ini sejak 1998,” kata Henry.

Selain faktor Omnibus Law, terpilihnya Joe Biden juga akan meningkatkan investasi ke Indonesia. Menurut Henry terpilihnya Biden akan menjadi pendorong dana asing mengalir ke emerging markets, termasuk Indonesia. “Modal asing yang tadinya all about America, mulai kembali ke Asia Tenggara, ke Indonesia,” ujarnya.

Modal asing tersebut tidak hanya akan mengalir dalam bentuk aliran portofolio ke pasar saham, tetapi juga dalam bentuk investasi langsung. Investasi tersebut akan masuk sektor-sektor keuangan, infrastruktur atau industri, dan teknologi, media, telekomunikasi. “Indonesia bisa menjadi hub manufaktur atau teknologi berikutnya di Asia, yakni untuk produk mobil listrik, baterai kendaraan listrik, atau teknologi cloud,” ujarnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *