Kutil, Algojo di 3 Daerah Pantura Jawa Tengah

3 min read


Oleh: Syaefudin Simon, Wartawan

KOPI, Bekasi – Kutil! Sebuah nama penyakit kulit yang muncul di tubuh manusia. Bentuknya kecil, muncul di kulit; berakar, dan kadang menyebar di sekujur tubuh. Orang yang tubuhnya penuh kutil, rasa percaya dirinya hilang. Maklumlah, gegara kutil, keindahan tubuh seseorang jadi ambyar!

Tapi, Kutil yang ini luar biasa. Ia sangat berbahaya. Si Kutil — bukan sekadar penyakit kulit yang ditakuti masyarakat — tapi juga algojo manusia.

Ya, Kutil yang tak lulus SD ini, saat terjadi huru-hara di 3 daerah — Brebes, Tegal, dan Pekalongan, Oktober 1945 — menjadi tokoh penting yang amat ditakuti pejabat daerah. Kutil yang jadi kader PKI, menjelma jadi algojo yang menakutkan.

Kenapa? Kutil yang nama aslinya Sakhyani dan pekerjaannya sebelum tahun 1945 sebagai tukang cukur, setelah Indonesia merdeka, berubah sebagai tukang bantai manusia. Karena ia kader elit PKI Tegal yang ditugaskan untuk mengkomuniskan wilayah tersebut.

Tercatat, Oktober 1945, Kutil membentuk Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang bermarkas di Bank Rakyat Talang, Tegal. AMRI adalah organ PKI yang berfungsi meratakan jalan untuk mendirikan negara komunis di Indonesia. Melalui AMRI, Kutil bergerak menyingkirkan orang-orang yang tak disukainya; orang-orang yang akan mengganggu tujuan PKI — mendirikan negeri komunis Indonesia.

Jadilah AMRI di bawah Kutil memprovokasi rakyat untuk menyingkirkan tokoh ulama dan pejabat daerah. Mereka, kata Kutil, adalah koruptor, penghisap darah rakyat, dan antek-antek penjajah. Kutil pun menculik dan membantai puluhan, bahkan ratusan orang yang dituduhnya berkolaborasi dengan pemerintah kolonial. Gerakan Kutil yang terbungkus AMRI tersebut, menjadikan tiga daerah — Brebes, Tegal, dan Pekalongan — mencekam. Orang takut diculik dan dibantai gerakan Kutil. Dalam kondisi seperti itu, pada 4 November 1945, AMRI menyerbu Kantor Pemda Tegal dan Markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pro-repubikan. Ternyata, serbuan AMRI mendapat perlawanan keras TKR. Akibatnya ia gagal menguasai markas militer Tegal.

Kapok? Tidak? AMRI yang didukung PKI, membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah (GBPTD). Tujuannya untuk merebut kekuasaan di Keresidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal, dan Pemalang. Sekali lagi, operasi GBPTD gagal karena mendapat perlawanan pemerintah dan masyarakat, khususnya umat Islam. GBPTD tampaknya lupa bahwa tiga daerah tersebut adalah basis Islam yang antikomunis.

Betul, melalui AMRI dan GBPTD, Kutil malang melintang memprovokasi massa untuk menyingkirkan — apa yang disebutnya — penghisap darah rakyat dan antek-antek kolonial. Itulah sebabnya, dalam sejarah, peristiwa Tiga Daerah tersebut selalu dikaitkan dengan gerakan Kutil. Ini karena Kutil adalah tokoh komunis yang menggerakkan rakyat untuk melakukan pendombrengan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang memusuhi PKI. Terutama dari kalangan Islam dan pejabat pemerintah yang antikomunis.

Salah satu kisah pendombrengan — istilah lokal untuk pelecehan dan penghinaan — yang melegenda di masyarakat Tegal adalah pendombrengan Raden Ayu Kardinah. Menurut Anton E. Lucas dalam buku “Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi” (terbit 1989), dombreng merupakan istilah lokal yang artinya adalah tindakan membuat malu para pejabat yang (dianggap) korup di depan umum. Dombreng juga diartikan sebagai ritual tentang majikan yang diusir (disepak keluar) oleh abdinya. Korbannya tak hanya si pejabat, tapi juga keluarganya.

Raden Ayu Kardinah, adalah salah seorang adik Raden Ajeng Kartini, pahlawan emansipasi wanita Indonesia. Pada Oktober 1945, Kardinah berada di Tegal bersama anak, mantu, dan cucunya. Ia sebelumnya tinggal di Salatiga, tepatnya pada masa pendudukan Jepang. Kardinah yang saat itu telah berusia 64 tahun adalah istri Reksonegoro X, Bupati Tegal yang menjabat pada 1929-1935. Ia juga merupakan mertua dari Raden Soenarjo, Bupati Tegal pada 1944-1945. Pada era kolonial, saudari Kartini ini, dikenal sebagai orang yang berjiwa sosial.

“Kardinah mendirikan sebuah rumah sakit, sekolah untuk anak perempuan, dan rumah yatim piatu anak-anak perempuan di Tegal,” tulis Anton E. Lucas.

Kebaikannya ini, ternyata tak bisa menghindarkan Kardinah dari amuk gerakan Kutil yang menerjang tiga daerah di Karesidenan Pekalongan. Tempat tinggal Kardinah didatangi massa. Para penyerbu mengubrak-abrik isi rumahnya. Lalu Kardinah diarak, layaknya jatilan atau topeng monyet. Ia didombreng, dipermalukan, dan dijadikan tontonan rakyat. Kardinah “selamat” ketika berhenti di rumah sakit yang dulu ia dirikan, dengan pura-pura sakit. Ia dimasukkan rumah sakit yang didirikannya. Lalu kabur ke Salatiga tanpa diketahui para pendombrengnya.

Kardinah bukan satu-satunya orang yang kena dombreng. Malam 7 Oktober 1945, lurah Desa Cerih yang bernama Harjowijono pun menjadi sasaran. Rumahnya dikepung massa.

“Rakyat mengancam akan membakar rumah itu bila lurah tidak mau keluar,” tulis Lucas.

Esoknya, Harjowijono mendatangi massa dengan pakaian kebesaran lurah agar terlibat berwibawa. Namun, bukannya rasa hormat yang ia dapat, pakaian lurah itu justru dilucuti dan diganti dengan karung goni. Sementara istri lurah dipakaikan kalung padi. Pasutri itu kemudian diarak keliling kampung dengan iringan gamelan milik sang lurah. Keduanya jadi tontonan rakyat.

“Sesudah diarak, mereka dihina dan diperlakukan seperti ayam, dipaksa minum air mentah dalam tempurung kelapa dan makan dedak (kulit) padi,” imbuh Lucas.

Orang-orang yang jadi sasaran gerakan Kutil di tiga daerah tersebut tidak hanya didombreng, tapi juga, ada yang dibunuh. Menurut Lucas, salah seorang yang dibunuh itu adalah petugas pengumpul romusha yang bernama Raden Mas Abu Bakar. Ia dituduh menyelewengkan separuh tunjangan romusha.

Belakangan Kutil dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Pekalongan. Ia adalah terpidana mati pertama setelah Indonesia merdeka.

Menurut mantan Kapolri Hoegeng Imam Santoso dalam bukunya “Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan” — gerakan Kutil yang terafiliasi dengan komunis hendak mendirikan pemerintah revolusioner pro-PKI Uni Soviet. Mereka menciduk orang-orang yang dianggap sebagai “loyalis penjajah Belanda”, termasuk tokoh yang berjasa secara sosial dan dicintai rakyat Tegal seperti Kardinah. Kerabat Hoegeng juga menjadi salah satu korban dalam Peristiwa Tiga Daerah tersebut.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *