Kasus Covid-19 Nyaris Tembus 1 Juta, IHSG Sesi Pertama Anjlok 1,39%

1 min read


Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,39% menyentuh level 6.219 pada perdagangan sesi pertama, Senin (25/1). Indeks domestik, bahkan sempat menyentuh level 6.148 di awal sesi atau turun hingga 2,52%.

Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan, penurunan ini sejalan dengan kekhawatiran pelaku pasar terhadap semakin meningkatnya kasus positif Covid-19 di dalam negeri. Hingga Minggu (24/1), jumlah kasus secara total mencapai 989.262 orang dengan rasio positif (positivity rate) mencapai 33,2%.

“Perdagangan di awal pekan masih diwarnai kekhawatiran dampak pandemi cukup besar hingga valuasi ekuitas yang dianggap telah overvalue membuat investor akan kembali bersikap hati-hati,” kata Lanjar dalam risetnya yang dikutip hari ini.

Secara teknikal, IHSG hari ini diperkirakan masih cenderung tertekan. Adapun, area support dan resistance dari hasil analisisnya ada di antara level 6.230 hingga 6.372.

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan, jumlah penderita Covid-19 yang nyaris 1 juta orang dan berpotensi terus meningkat membuat IHSG pagi ini terkoreksi. Ditambah lagi, pemerintah memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali hingga 8 Februari 2021.

“Berlanjutnya PPKM di Pulau dan Bali hingga 8 Februari akan berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi kuartal 1 tahun 2021,” kata Edwin dalam risetnya pagi ini.

Tekanan jual juga datang dari turunnya harga beberapa komoditas. Di antaranya minyak turun 2,1%, emas turun 0,56%, nikel turun 0,99%, dan timah turun 0,41%. Sehingga menurutnya, IHSG hari ini diprediksi bergerak pada rentang level 6.257 hingga 6.350.

Adapun, pada perdagangan sesi pertama hari ini, total volume saham yang diperdagangkan sebanyak 11,31 miliar unit saham dengan total nilai transaksi yang mencapai Rp 10,56 triliun. Tercatat pula sebanyak 393 saham ditutup turun, sedangkan hanya 85 saham yang tercatat naik.

Indeks sektor aneka industri menjadi yang turun paling besar yaitu 3,86%. Penurunan ini disebabkan saham PT Astra International Tbk (ASII) yang anjlok 4,48% menjadi Rp 6.400 per saham. Begitu pula dengan saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) yang turun 4,06% menjadi Rp 236 per saham.

Sektor lain yang anjlok adalah agrikultur sebesar 2,56%. Penyebabnya, saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang turun 3,43% menjadi Rp 11.250 per saham dan saham PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) yang turun 6,64% menjadi Rp 985 per saham.

Saham sektor finansial menjadi sektor yang turun paling kecil yaitu 0,77%. Pasalnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ditutup naik 0,21% menjadi Rp 4.730 per saham dan saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang naik 1,17% menjadi Rp 6.475 per saham.

Di kawasan Asia, IHSG menjadi indeks yang turun paling tajam. Menemani penurunan indeks Tanah Air, Strait Times Index di Singapura mengalami penurunan 0,29% dan FTSE Bursa Malaysia juga tercatat turun sebesar 0,26%.

Namun, Nikkei 225 di Jepang bergerak naik 0,4%. Hang Seng Index di Hong Kong meroket hingga 2,12%. Shanghai Composite di Tiongkok mengalami kenaikan 0,78%. Begitu pula dengan Kospi di Korea Selatan mengalami kenaikan 1,88%.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *