Tujuh Mitos Vaksin Corona yang Telah Dibantah Ahli Kesehatan Dunia

2 min read


Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Keraguan terhadap vaksin virus corona hingga penolakan secara terang-terangan terhadap vaksinasi semakin mengemuka beberapa waktu terakhir. Publik tidak hanya mempertanyakan soal efikasi dan efektivitas vaksin, tapi juga cara pengembangan dan keamanannya.

Pengembangan vaksin yang begitu cepat, hanya sekitar satu tahun sejak pandemi corona dimulai pada awal 2020, menjadi penyebab utama keraguan dan penolakan masyarakat. Disinformasi pun bermunculan yang semakin membuat publik ragu untuk menerima vaksinasi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa keraguan terhadap vaksin ke dalam 10 besar ancaman terhadap kesehatan global pada 2019. “Vaksinasi bisa mencegah kematian 2 – 3 juta orang setahun, bahkan hingga 4,5 juta orang jika akses global terhadap vaksin ditingkatkan,” tulis WHO seperti dikutip CNBC, Sabtu (23/1).

Terkait dengan vaksin Covid-19, para ahli kesehatan dan pejabat kesehatan publik menyatakan bahwa upaya melawan disinformasi (informasi yang salah untuk menyesatkan orang lain) dan misinformasi (informasi salah dan tidak akurat) sangat krusial.

Berikut adalah 7 mitos atau disinformasi seputar vaksin virus corona yang telah dibantah oleh ahli kesehatan:

1. Vaksin Covid-19 tidak aman karena pengembangannya terlalu cepat

Vaksin virus corona yang telah didistribusikan saat ini telah melalui serangkaian tes dan uji klinis yang melibatkan ribuan orang relawan. Vaksin sebelumnya diujicobakan ke hewan.

Perusahaan pengembang vaksin menegaskan bahwa tidak ada jalan pintas dalam mengembangkan vaksin Covid-19, dan hasil uji klinis telah menunjukkan bahwa vaksin tersebut aman dan efektif.

Sebelum mendapatkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA), vaksin buatan Pfizer-BioNTech, Moderna, dan Universitas Oxford-AstraZeneca, telah diteliti oleh Food and Drug Adminsitration (FDA) Amerika Serikat (AS), European Medicines Agency, dan Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA) Inggris.

Berdasarkan hasil uji klinis, vaksin Pfizer-BioNTech memiliki efektivitas 95%, Moderna 94,1%, dalam mencegah infeksi Covid-19 parah. Sedangkan vaksin Oxford-AstraZeneca memiliki efikasi 70%.

Direktur MHRA June Raine menegaskan bahwa tidak ada jalan pintas yang diambil ketika Inggris  memberikan EUA vaksin Pfizer-BioNTech dan menjadi negara pertama yang memvaksinasi warganya pada Desember 2020.

“Para ahli telah bekerja keras sepanjang waktu, menganalisis secara cermat seluruh data yang ada,” kata Raine, seperti dikutip CNBC.

2. Vaksin Corona dapat mengubah DNA manusia

Vaksin virus corona yang dikembangkan Pfizer-BioNTech dan Moderna dikembangkan menggunakan metode mRNA yang menginstruksikan sel dalam tubuh manusia dalam menciptakan protein yang dapat memicu kekebalan. mRNA tidak dapat menembus inti sel di mana DNA berada.

“Ini artinya mRNA tidak dapat mempengaruhi atau berinteraksi dengan DNA kita. Sebaliknya vaksin Covid-19 mRNA bekerja dengan sistem imun tubuh dalam menciptakan kekebalan terhadap penyakit,” kata CDC AS. Setelah itu mRNA akan disingkirkan oleh sistem imun yang sudah terbentuk.

3. Vaksin Corona dapat mempengaruhi kesuburan

Kaum wanita khawatir vaksin dapat mempengaruhi tingkat kesuburan mereka dalam memperoleh keturunan. Ini dipicu banyaknya informasi yang salah/tidak akurat yang beredar secara daring atau online.

Meski demikian Royal College of Obstetricians and Gynaecologists serta Royal College of Midwives Inggris telah meneliti pengaruh vaksin Covid-19 terhadap kesuburan dan kehamilan.

“Kami ingin meyakinkan para perempuan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan vaksin Covid-19 akan mempengaruhi kesuburan. Semua klaim tersebut sangat spekulatif dan tidak didukung dengan data,” kata presiden Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, dr Edward Morris.

4. Vaksin berbahaya untuk wanita hamil

Faktanya, data terkait keamanan vaksin Covid-19 terhadap wanita hamil masih sangat terbatas. Data yang tersedia saat ini yaitu dari hasil uji coba vaksin terhadap seekor tikus yang tengah hamil. Hasil uji coba tersebut menunjukkan vaksin tidak menimbulkan ancaman terhadap kehamilan tikus tersebut.

Meski demikian, pemerintah Inggris menginstruksikan agar wanita hamil tidak menerima vaksinasi. “Vaksin ini belum diuji kepada wanita hamil, jadi sampai tersedia informasi yang lebih lengkap, wanita hamil sebaiknya tidak mengikuti vaksinasi,” tulis pernyataan MHRA Inggris.

Pemerintah inggris juga mencatat bahwa bukti dari studi nonklinis vaksin Pfizer-BioNTech dan Universitas Oxford-AstraZeneca telah ditinjau oleh WHO dan regulator di seluruh dunia dan “tidak menyuarakan kekhawatiran” tentang keamanan kehamilan.

Komite Bersama Vaksinasi dan Imunisasi Inggris, menyatakan bahwa potensi manfaat vaksinasi sangat penting bagi beberapa wanita hamil, termasuk mereka yang berisiko sangat tinggi tertular. Dalam kasus ini, pemerintah Inggris merekomendasikan para wanita agar berkonsultasi dengan ahli kesehatan/dokter terkait kemungkinan vaksinasi.

5. Setelah vaksinasi tidak perlu lagi menggunakan masker

Faktanya, seseorang yang telah divaksinasi masih dapat menularkan virus kepada orang lain. Belum diketahui dampak vaksin terhadap transmisi virus corona.

Seiring masih banyaknya orang yang belum menerima vaksinasi, protokol kesehatan tetap harus dijalankan dengan disiplin melalui gerakan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker, untuk mencegah penularan Covid-19.

6. Vaksin tidak diperlukan karena sebelumnya sudah terpapar Covid-19

Seseorang yang telah dinyatakan positif Covid-19 dan berhasil sembuh telah memiliki antibodi di tubuhnya. Namun para ahli tidak yakin berapa lama kekebalan ini bertahan.

Menurut hasil studi di Inggris, orang yang telah terpapar Covid-19 sebelumnya, dan berhasil sembuh, memiliki kekebalan setidaknya selama 5 bulan. Namun hasil studi tersebut juga menujukkan bahwa mereka yang telah memiliki antibodi masih dapat menularkan virus ke orang lain.

7. Penerima vaksinasi bisa terinfeksi Covid-19

Seseorang yang menerima vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna tidak akan terkena Covid-19 karena vaksin tersebut tidak mengandung virus hidup.

Sementara itu vaksin Universitas Oxford-AstraZeneca terbuat dari adenovirus yang telah dimodifikasi. Virus ini merupakan penyebab flu pada simpanse. Virus ini dimodifikasi supaya tidak menyebabkan infeksi melainkan untuk mengirimkan kode genetik lonjakan protein virus korona.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *