Upaya Bakrieland Development Bangkit dari Saham Gocap

2 min read


Saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) kerap disuspensi dari perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Terakhir, saham perusahaan Grup Bakrie ini disuspensi sejak 31 Agustus 2020 akibat belum menyampaikan laporan keuangan triwulan III 2020. Lalu, bagaimana usaha manajemen?

Direktur Bakrieland Buce Yeef mengatakan, laporan keuangan tersebut sudah disampaikan kepada otoritas bursa efek beberapa waktu lalu. Saat ini Bakrieland tinggal menyelesaikan seluruh kewajiban seperti pembayaran denda. Manajemen mengupayakan suspensi bisa dicabut Bursa secepatnya.

“Jadi mudah-mudahan dalam bulan ini kami sudah bisa melayangkan surat untuk pencabutan suspensi karena hak pencabutan ada di Bursa,” kata Buce dalam paparan publik secara virtual, Jumat (22/1).

Selain kerap disuspensi oleh Bursa, harga saham Bakrieland menyentuh harga terendah suatu saham yaitu Rp 50 per saham sejak 2013 silam. Emiten berkode ELTY ini melantai di pasar saham sejak 30 Oktober 1995 dengan harga IPO saat itu Rp 625 per saham.

Untuk membangkitkan saham Bakrieland dari saham gocap, manajemen mengaku sudah melakukan berbagai upaya yaitu dengan meningkatkan kinerja. Rencana Bakrieland ke depan di tengah pelemahan ekonomi akibat pandemi Covid-19, diharapkan bisa meningkatkan profitabilitas perusahaan.

“Dengan perbaikan kinerja, kami tentu berharap pada akhirnya harga saham perseroan juga dapat meningkat,” kata Buce menambahkan.

Meski begitu, kenaikan harga saham Bakrieland bukan hanya dipengaruhi oleh faktor kinerja perusahaan saja melainkan ada mekanisme pasar yang di luar kendali manajemen. Sehingga, yang bisa dilakukan manajemen untuk membuat harga saham ELTY kembali naik, melalui perbaikan kinerja.

Kinerja Keuangan Bakrieland

Berdasarkan laporan keuangan Bakrieland hingga triwulan III 2020, pendapatan perusahaan mengalami penurunan hingga 34,76% menjadi Rp 475,57 miliar. Meski begitu, perusahaan melakukan berbagai efisiensi sehingga rugi bersih Bakrieland hanya Rp 92,38 miliar, mengecil dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 369,73 miliar.

Buce menjelaskan, mayoritas pendapatan Bakrieland pada sembilan bulan pertama 2020, berasal dari jasa sewa dan pengelolaan perkantoran sebesar 54% dari total pendapatan. Diikuti oleh hotel, makanan, dan minuman sebesar 18%.

 

Kinerja Keuangan Bakrieland Development Kuartal III (Materi Pubex ELTY)

 

Pada kesempatan yang sama, Direktur Bakrieland Agus Jayadi Alwie mengatakan, penurunan pendapatan Bakrieland tidak lepas dari pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia. Di Indonesia, pandemi Covid-19 membuat pertumbuhan penjualan rumah tapak mengalami penurunan, paling besar pada triwulan I 2020 yang turun 43,19% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

“Penurunan terjadi di seluruh segmen rumah dengan kontraksi terjadi 60% di segmen rumah besar. Sedangkan rumah menengah dan kecil, kontraksi yang terjadi sebesar 25%-30%,” kata Alwie.

Selain penjualan rumah tapak, penjualan apartemen di Jakarta pun mengalami penurunan. Dampak Pandemi memperburuk tren penjualan apartemen di Jakarta sampai dengan triwulan III 2020, realisasi penjualan unit turun sekitar 50% secara tahunan.

Sementara, dari bisnis perhotelan, tingkat rata-rata okupansi hotel di Indonesia pun mengalami penurunan drastis selama pandemi. Tingkat okupansi hotel sempat berada pada titik terendahnya yaitu Maret dan April 2020, dimana okupansi hanya 13%-14% saja.

“Pandemi Covid-19 dan PSBB pada Maret 2020 membatasi jumlah wisata dan perjalanan bisnis yang menurunkan rata-rata okupansi hotel sampai di bawah 20%. tapi mulai menunjukkan perbaikan di kuartal III 2020,” kata Alwie.

Aset dan Liabilitas Bakrieland Development

Aset dan Liabilitas Bakrieland Development (Materi Pubex ELTY)

 

Alwie mengatakan, ke depan perusahaan fokus pada pemulihan bisnis akibat pandemi Covid-19 dengan meningkatkan pendapatan dari segmen recurring. Pasalnya, pendapatan dari segmen tersebut mampu menopang pendapatan perusahaan. Pasalnya, saat ini okupansi hotel milik Bakrieland sudah mulai di atas 50%.

“Ini terus akan kami boost, upayakan agar recurring ini bisa terus meningkat dengan promosi menarik, fasilitas yang inovatif untuk kegiatan yang inovatif, supaya recurring terus meningkat,” kata Alwie.

Pendapatan dari segmen non-recurring, Bakrieland tidak berharap bisa mendapatkan proyek berskala jumbo hingga 2022 mendatang. Sehingga, fokus utama Bakrieland adalah pengembangan proyek berbasis hunian alias rumah tapak dengan segmentasi menengah karena pasar dan permintaannya masih ada meski turun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *