Bebasnya Abu Bakar Baasyir dan Kenangan Bom Bali

5 min read


Oleh: Syaefudin Simon, Wartawan Senior
Simon Syaefudin

KOPI, Bekasi – Ideolog radikalisme Abu Bakar Ba’asyir (ABB) bebas dari penjara Gunung Sindur, Bogor, Jumat, 8 Januari 2021 lalu. ABB, terpidana kasus terorisme yang divonis 16 Juni 2011 itu, bebas murni usai menjalani hukuman 15 tahun penjara minus remisi 55 bulan.

Bebasnya ABB mendapat sambutan meriah dari para pendukungnya, kaum radikal. Sebaliknya, hal itu mendapat cibiran kaum moderat. Lalu membuka kembali luka lama warga Bali dan ratusan korban tewas bom Kuta, 12 Oktober 2002 dan bom Jimbaran 1 Oktobet 2005. Bagaimana pun, bagi masyarakat Bali, ABB adalah monster penuh darah yang memicu horor kematian terbesar dalam sejarah terorisme Indonesia.

Kilas Balik Bom Bali

Sabtu malam, 12 Oktober 2002, tiga bom menggelegar amat keras di Paddy’s Pub, Sari Club, dan Kantor Konsulat Amerika di Bali. Pulau Dewata yang indah penuh pesona, banjir darah dan mayat manusia.

Dua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali. Sedangkan ledakan terakhir di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, Renon, Denpasar.

Aksi terorisme itu amat mengejutkan penduduk setempat yang sebagian besar beragama Hindu. Menutut majalah History, ledakan mematikan itu berasal dari bom besar berukuran sekitar 1.200 kilogram yang ditaruh di sebuah mobil van di depan Sari Club.

Korban tewas akibat ledakan bom Bali, 202 orang, 209 lainnya cedera. Kebanyakan korban wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi wisata tersebut. Korban tewas terbanyak dari Australia, 88 orang; Inggris 28 orang; dan Indonesia 38 orang. Korban lainnya dari 21 negara di dunia. Bom di Kuta menghancurkan 47 bangunan dan ratusan mobil yang berada di sekitar pub dan club. Ledakan bom tersebut menyisakan lubang selebar 4-4,5 meter dengan kedalaman 80 sentimeter.

Konsul Jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) di Surabaya, Philips L Antweiler, saat itu, mengatakan, pemboman Bali merupakan aksi teroris dalam jaringam Al-Qaeda. Tanda-tandanya mengarah ke sana, ungkap Antweiler. Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah dibentuk untuk menangani kasus ini menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis TNT seberat 1 kg dan bom RDX berbobot antara 50-150 kg.

Tragedi Bom Bali yang waktunya hanya berselang satu tahun satu bulan dan satu hari dari tragedi WTC New York (11 September 2001), benar-benar mengguncang publik internasional. Dunia, hanya dalam waktu setahun, kembali terguncang aksi terorisme yang sangat mengerikan. Jika di Amerika target teroris itu pusat bisnis terbesar di dunia, New York; di Indonesia target teroris itu Pulau Bali, salah satu destinasi wisata terbesar di dunia. Di kedua lokasi itulah, hadir manusia dari seluruh dunia untuk menjalankan aktivitasnya, baik untuk wisata maupun usaha. Tempat semacam inilah yang jadi sasaran teroris. Karena di tempat seperti itu niscaya banyak orang — yang menurut teroris — kafir dan mengancam Islam. Bagi para teroris, Barat dan sekutunya adalah musuh Islam. Mereka menjajah Palestina, mendirikan negara Israel, menindas rakyat Afghanistan, dan merusak moral umat Islam. Itulah sebabnya keberadaan “musuh-musuh” Islam itu harus dihabisi, dalam kondisi apa pun.

Selama dua pekan sejak bom menggelegar di Kuta dan Denpasar, berbagai spekulasi muncul, siapa dalang tragedi itu: teroris lokal, Israel, Amerika, alqaidah, jamaah islamiyah, atau lainnya? Simpang siur!

Di antara spekulasi paling menonjol, konon, pelakunya Amerika dan Israel, dengan memakai bom mikro nuklir. Teori konspirasi ini cukup ramai karena diekspose berbagai koran dan majalah tertentu yang selama ini terlihat membela kaum radikal. Menurut spekulan teori konspirasi, tak mungkin teroris Indonesia mampu membuat bom sedahsyat itu.

Faktanya? Polisi mulai nenemukan titik terang siapa-siapa saja pelaku bom Bali. Aparat keamanan berhasil membuat sketsa beberapa wajah tersangka pengebom, seperti Amrozi, Ali Imron, Imam Samudra, dan Ali Gufron. Keberhasilan polisi menemukan nomor seri eksklusif di secuil puing mobil van Mitsubishi L 300 buatan Jepang yang hancur bersama bom yang meledak — makin membuka jalan penyelidikan siapa saja dalang aksi terorisme tersebut. Teori konspirasi pun terkapar. Gagal total.

Dalam penggeladahan ke tempat persembunyian teroris Bali, polisi menemukan sebuah audio kaset penting. Isi kaset itu, diduga, berupa pesan suara dari Osama bin Laden, yang menyatakan bahwa bom Bali merupakan pembalasan langsung atas dukungan Amerika Serikat terhadap Perang Melawan Teror dan peran Australia dalam pembebasan Timor Timur .

Pada 8 November 2008, Imam Samudra , Amrozi Nurhasyim dan Huda bin Abdul Haq dieksekusi oleh regu tembak di penjara pulau Nusakambangan pada pukul 00:15 waktu setempat. Pada 9 Maret 2010, teroris yang bertanggung jawab atas peledakan salah satu bom Bali dengan ponsel, mati terkena timah panas dalam baku tembak dengan polisi di Jakarta.

Kenapa pub dan club yang jadi sasaran bom? Hambali alias Ridwan Ishomudin, salah seorang pimpinan Jamaah Islamiyah yang mendalangi pemboman Kuta, menyatakan club malam dan pub jadi target pemboman karena termasuk sasaran yang lunak. Maksudnya, tingkat pengamanannya rendah dibandingkan gedung kedutaan atau konsulat.

Ali Imron — salah seorang pelaku peledakan bom Bali yang divonis hukuman penjara seumur hidup tahun 2003 — mengatakan bahwa serangan Bali awalnya direncanakan 11 September 2002, sebagai peringatan pertama serangan teror World Trade Centre di New York, AS, setahun sebelumnya. Tapi rupanya bom-bom itu belum siap sehingga rencana ditunda.

Teroris Amrozi mengaku, ia yang membeli bahan kimia dan minivan yang digunakan untuk mengebom Sari Club. Ia juga menyebut Dulmatin sebagai orang yang membantu merakit bom. Yang meracik bahan peledak Umar Patek dan Abdul Ghoni. Sementara Ali Imron membantu membuat bom utama yang digunakan di Sari Club.

Adapun yang membawa bahan peledak ke Sari Club, Jimi. Ia tewas bersama ledakan. Sedangkan Iqbal meledakkan diri bersama bom yang menggelegar di Paddy’s Pub.

“Tugas mereka adalah meledakkan bom-bom itu,” kata Ali Imron. “Mereka siap mati. Mereka jadi penganten yang langsung masuk sorga begitu tewas,” tambahnya. Semua aksi tersebut koordinator lapangannya Muchlas alias Ali Ghufron dan komandan utamanya Imam Samudera.

Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri terus mengejar sejumlah pelaku yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) kasus Bom Bali 1 pada 2002. Sampai saat ini, masih ada teroris bom Bali yang bersembunyi. Belum tertangkap polisi. Tapi polisi tak menyerah. Masih tetap memburunya.

Densus 88, misalnya, telah menangkap Zulkarnaen yang merupakan panglima Askari alias tentara Jamaah Islamiyah (JI). Pria yang memiliki beberapa nama antara lain Aris Sumarsono alias Daud alias Zaenal Arifin alias Abdulrahman itu ditangkap di Lampung Timur, Kamis 10 Desember 2020 tanpa perlawanan.

“Pelaku bom Bali lainnya masih kita kejar,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono, Minggu (13/12/2020).

Dalam catatan Wikipedia peristiwa bom Bali menyeret 26 pelaku. Beberapa di antaranya ada yang sudah ditangkap bahkan divonis. Sementara pelaku lainnya masih buron, sampai hari ini. Berikut daftar sebagian nama-nama teroris yang terlibat dalam proyek bom Bali.

  1. Abdul Gani, divonis seumur hidup.
  2. Abdul Hamid (kelompok Solo).
  3. Abdul Rauf (kelompok Serang).
  4. Imam Samudra alias Abdul Aziz, terpidana mati.
  5. Achmad Roichan.
  6. Ali Ghufron alias Mukhlas, terpidana mati.
  7. Ali Imron alias Alik, divonis seumur hidup.
  8. Amrozi bin Nurhasyim alias Amrozi, terpidana mati.
  9. Andi Hidayat (kelompok Serang).
  10. Andi Oktavia (kelompok Serang).
  11. Arnasan alias Jimi, tewas.
  12. Bambang Setiono (kelompok Solo).
  13. Budi Wibowo (kelompok Solo).
  14. Azahari Husin alias Dr. Azahari alias Alan (tewas dalam penyergapan oleh polisi di Kota Batu tanggal 9 November 2005).

Zulkarnaen

Setelah 18 tahun buron sejak 2002, akhirnya Densus 88 Polri berhasil menangkap Zulkarnaen, 1 Desember 2020 di Lampung. Zul adalah teroris bom Bali satu yang lolos dari kejaran polisi 2002. Dalam pelariannya Zul memimpin pelatihan militer Askari Markaziah Jamaah Islamiyah (JI) di Afghanistan selama 7 tahun. Zul pula yang menyembunyikan Upik Lawanga alias Taufik Bulaga, tokoh Jamaah Islamiyah yang dibekuk Densus 23 November 2020 di Lampung.

Upik Lawanga sehari-hari menyamar sebagai penjual bebek di desa Sri Bawono, Way Seputih, Lampung. Padahal di kalangan teroris, Upik berjuluk “profesor” yang ahli membuat senjata. Upik, buron polisi sejak 14 tahun lalu ini perakit bom yang mendentum di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton. Upik juga mendalangi aksi bom Bali dan terorisme lain sepanjang pelariannya.

Kembali ke Zul, alias Aris Sumarsono, alias Daud, alias Zainal Arifin, alias Abdurrahman. Ia tercatat sebagai otak dari kerusuhan di beberapa daerah, seperti Ambon, Ternate, dan Poso 1998. Zul termasuk otak peledakan kediaman duta besar Filipina tahun 2000 di Jakarta dan peledakan gereja serentak malam Natal tahun 2000. Juga otak bom Bali satu dan dua. Zul adalah pelaksana perintah Abdullah Sungkar, mitra ABB dan sesepuh Jamaah Islamiyah yang mukim di Malaysia untuk membentuk tim khos atau tim khusus. Tim khos inilah yang kemudian merancang aksi-aksi terorisme di Indonesia. Di antara anggota tim khos adalah Ali Imron, Amrozi, Dulmatin, dan Umar Patek.

Densus 88, sebelum membekuk Zulkarnain di Lampung, telah berhasil menangkap Para Wijayanto di Kranggan, Bekasi, tahun 2019. Ia divonis 7 tahun penjara. Para Wijayanto alias Abang alias Aji Pangestu alias Abu Askari alias Ahmad Arief alias Ahmad Fauzi Utomo adalah amir (pimpinan tertinggi) terlama di Jamaah Islamiyah, 2008 – 2019.

Berikut adalah nama orang-orang yang pernah menjadi amir Jamaah Islamiyah. Abdullah Sungkar (1993-1999), Abu Bakar Ba’asyir (1999-2003), Abu Rusdan (2003-2004), Adung Alias Sunarto (2004-2005), Zarkasih Alias Zahroni (2005-2007). Pada tahun 2007-2008 terjadi kekosongan pimpinan. Setelah itu Para Wijayanto (2008-2019).

Dari catatan ini, jelas ABB adalah sosok yang amat berbahaya. Singapura dan Amerika sebetulnya minta ABB diadili di wilayahnya. Karena aktivitas ABB dan korban ideologi terorismenya membahayakan warga dan negara tersebut. Tapi sayang, SBY dan Megawati menolaknya.

Kini ABB bebas di negeri rejim hukum yang lunak terhadap ideolog terorisme. Jika saja ABB warga negara Amerika, niscaya nasibnya tak lebih baik dari Osama bin Laden. Di dalam negeri di hukum mati. Lari, dicari sampai lubang semut, lalu didor pasukan khusus Navy Seal seperti halnya Osama.

ABB kini mungkin tersenyum menikmati kebebasan dan ciuman tangan dari kaum radikal. Tapi di alam sana, arwah 240-an korban tewas tak berdosa, siap menyeretnya ke mahkamah keadilan. Tanpa ampun. Tanpa kompromi.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *