KRL Yogya – Solo Masuki Tahap Uji Coba, Penumpang Cukup Bayar Rp 1

1 min read


Kereta Rel Listrik (KRL) Yogya – Solo resmi diluncurkan. Nantinya, akan tersedia 11 kereta dengan stasiun pemberhentian lintas Yogyakarta – Solobalapan. Sebelum beroperasi penuh, KRL akan diujicobakan mulai 20 hingga 31 Januari.

Dalam uji coba ini pula, tarif yang dikenakan hanya Rp 1. Untuk menggunakan layanan ini, masyarakat diharuskan untuk mempunyai kartu e-money, ataupun commuter pay.

Direktur Utama KAI Commuterline Wiwik Widyanti menyatakan, uji coba bertujuan untuk menguji sistem yang berjalan, sekaligus memperkenalkan KRL kepada masyarakat Yogya dan Solo.

“Melalui uji coba, masyarakat bisa mengetahui bagaimana pelayanan KRL. Ini akan menjadi pengalaman baru bagi masayrakat Yogya dan Solo,” ujar Wiwik dalam konferensi pers Hadirnya KRL Yogya – Solo, Selasa (19/1).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri memproyeksi, tahun ini KRL Yogya – Solo mampu mengangkut enam juta penumpang.

Hal itu dilandasari dari studi kelayakan pembagunan elektrifikasi Yogya – Solo. Di mana, hasil studi menunjukkan ada peningkatan signifikan terhadap penumpang.

“Yogya – Solo menjadi wilayah aglomerasi dengan jumlah penduduk 10 juta. Harapannya ke depan penumpang KRL Yogya Solo mencapai 29 juta orang,” ujar Zulfikri.

Rencananya, kapasitas yang disediakan oleh KRL ini lebih tinggi dibandingkan kereta Prambanan Ekspres (Prameks). Zulfikri pun menambahkan, pengoperasian KRL di wilayah Yogya Solo didasari karena koridor tersebut penuh dengan kawasan wisata.

Sehingga, langkah ini diharapkan dapat mendukung sarana transportasi, serta meningkatkan jumlah wisatawan. Melalui KRL Yogya – Solo pula, Zulfikri berharap dapat mendorong pemulihan ekonomi yang tergerus pandemi Covid-19.

“Selain melayani penumpang, KRL ini memudahkan mobilitas masyarakat. Sehingga bisa memulihkan perekonomian,” kata dia.

Ke depan, tak menutup kemungkinan kapasitas kereta Yogya Solo akan ditambah. Namun, ia menekankan daerah sekitar perlu didukung moda lanjutan, sehingga implementasi KRL dapat maksimal.

Ia melanjutkan, ke depan pemerintah akan mengembangkan KRL di wilayah lain guna mendukung transportasi dan mobilitas masyarakat. Terlebih, ia menilai kehadiran KRL lebih efesien juga ramah lingkungan.

Karenanya, daerah yang akan disasar oleh KRL adalah besarnya potensi wisata, potensi penduduk maupun wilayah. “Alasan KRL Yogya Solo dioperasikan terlebih dahulu, karena secara teknis wilayah ini sudah punya jalur ganda. Namun, ke depan pemerintah tetap mengembangkan KRL di wilayah lain,” kata dia.

Senada, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo menyambut baik operasi KRL Yogya Solo. Sebab volume penumpang kereta api Prameks terus mengalami peningkatan.

Pada Oktober dan November tahun lalu, misalnya, volume penumpang Prameks sebanyak 142.095 dan 139.019 orang. “Operasi KRL Yogya Solo bisa memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Terlebih, volume pengguna KRL dari masa ke masa trennya naik,” ujar Didiek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *