Investasi Saham dengan Modal Utang Berujung Rugi

1 min read


Jumlah investor di pasar modal meroket 45% pada 2020 dibandingkan tahun sebelumnya atau sejak Covid-19 menjadi pandemi tahun lalu. Sayangnya, beberapa investor baru ini berinvestasi menggunakan utang dan harga sahamnya malah turun sehingga mengalami kerugian.

Melalui media sosial, beberapa akun edukasi saham menceritakan beberapa kisah tersebut. Ada yang sampai melakukan pinjaman ke 10 aplikasi online, menggunakan uang arisan, uang anggota Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), hingga menggunakan uang dari cara menggadai kendaraan bermotor.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi melihat hal ini sebagai fenomena yang tidak baik. BEI selalu mengingatkan investor yang berinvestasi saham, selain berpotensi memberikan keuntungan yang baik, juga mengandung risiko kerugian.

Dia pun mengaku sudah mengingatkan para investor untuk tidak menggunakan dana yang bersumber dari pinjaman, utang, atau dana yang diperlukan untuk kebutuhan sehari hari. Begitu juga, tidak menggunakan dana untuk kebutuhan darurat atau dana kebutuhan jangka pendek lainnya.

“Jadi hendaknya para investor jangan terlalu percaya diri dan berorientasi pada mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya dalam jangka pendek, secara instan,” kata Hasan kepada media, Senin (18/1).

 

Menggunakan sumber dana dari utang untuk membeli saham juga akan semakin meningkatkan risiko investasi. Karena adanya keterbatasan waktu yang relatif pendek untuk segera mengembalikan dana pinjamannya dengan tingkat bunga tertentu. Hal ini semakin membatasi pilihan dan strategi investasinya dan mempengaruhi aspek psikologis para investor.

Bursa pun mendorong agar investor terus belajar dan meningkatkan pemahamannya dalam berinvestasi saham. “Kami di BEI sudah menyediakan berbagai program dan sarana dalam melakukan edukasi kepada masyarakat dan juga para investor melalui kegiatan Sekolah Pasar Modal, Webinar, Workshop, dan melalui media sosial BEI,” kata Hasan.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan investor perlu melihat fundamental perusahaan yang sahamnya ingin dibeli. Sehingga, jangan merasa mendapatkan keuntungan dari pasar saham itu mudah.

Saat ini, beberapa saham pun harganya sudah terlalu tinggi dibandingkan dengan fundamentalnya. Sehingga, investor sebaiknya tidak menggunakan uang hasil pinjaman sebagai modal agar tidak mengalami kerugian akibat harganya turun.

Meski begitu, peran investor domestik di pasar modal domestik semakin dominan dan bisa menggantikan peran investor asing, sejalan dengan naiknya partisipasi masyarakat Indonesia. Hal tersebut langsung terlihat dari aktivitas di pasar saham yang ramai dalam beberapa waktu terakhir.

Seperti pada pekan kedua Januari 2021, rata-rata volume transaksi harian sebanyak 32,357 miliar saham dengan rata-rata frekuensi harian mencapai 1,87 juta kali. Begitu pula dengan nilai rata-rata transaksi harian di Bursa dalam sepekan lalu mencapai Rp 25,15 triliun.

Naiknya partisipasi masyarakat Indonesia sebagai investor ritel, dinilai positif oleh Nico. Hanya saja, ia berharap investor ritel ini mendapatkan edukasi terkait peraturan Bursa dan cara bermain saham. Ia tidak ingin, investor itu hanya jadi pengikut tren saja tanpa tahu fundamental perusahaan seperti apa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *