Pemugaran Gedung Sarinah Tetap Berjalan di Masa Pandemi

1 min read


Direktur Utama PT Sarinah (Persero) Fetty Kwartati mengungkapkan, proses pemugaran gedung Sarinah secara prinsip masih on track dan on schedule walau ditengah-tengah pandemi Covid-19.  Pekerjaan renovasi secara progresif dapat dilaksanakan asal dengan prokes yang ketat. Juga karena sektor konstruksi termasuk yang mendapat izin untuk beroperasi secara full scale.

“Sarinah sebagai gedung dengan predikat cagar budaya juga memiliki sebuah karya seni rupa patung relief yang juga ditinjau oleh  Menteri. Relief ini melambangkan kegiatan ekonomi rakyat jelata yang pada saat itu bertumpu pada hasil pertanian, perkebunan, perikan dan kerajinan. Selaku proklamator dan presiden pertama Indonesia, Bung Karno adalah seorang seniman dan yang mencetuskan pembuatan karya seni ini.  keberpihakan kepada ekonomi kerakyatan sudah merupakan semangat para pendiri bangsa ini,” kata Fetty dalam keterangan tertulis yang diterima Katadata.

Menteri BUMN Erick Thohir pada Kamis lalu mengunjungi Sarinah untuk melihat langsung progres pemugaran Gedung Sarinah dalam rangka transformasi bisnis Sarinah. Fetty Kwartati bersama Agung Budi Waskito Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) dan Asikin Hasan Kurator Galeri Nasional Indonesia ikut mendampingi Menteri BUMN Erick Thohir.

Menurut Asikin, salah seorang tokoh dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) karya seni ini ukurannya sangat epik serta gigantik. Bahkan pada saat dibuat sudah menggunakan teknologi pengecoran panel tunggal modern. Demikian pula saat Sarinah dibangun sebagai perwujudan modernisasi yang pada masanya adalah mercu suar kebangkitan ekonomi bangsa yang unggul yang berpihak pada ekonomi rakyat yang  istilah saat ini adalah UMKM.

“Relief ini juga terus mengingatkan amanah Sarinah untuk membesarkan mereka. Sejarah Sarinah yang pada tahun 80’an yang pernah terbakar dan pelebaran koridor pengunjung relief ini dipindahkan dan disimpan di lantai dasar. Berkenaan dengan transformasi dan renovasi Gedung Sarinah maka relief ini akan direstorasi dan dipamerkan saat pemugaran usai dan Sarinah beroperasi kembali,” kata Asikin.

Menteri Erick yang mengagumi maha karya ini mengatakan bahwa bangsa besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya.

“Saya minta agar karya ini direstorasi sedapat-dapatnya kembali seperti sedia kala, dan saat Sarinah kembali dibuka relief ini dapat dipamerkan kepada publik,” ujarnya.

Relief ini menurut catatan beberapa ahli sejarah, dan seni rupa nasional,  dibuat oleh kelompok seniman Yogyakarta pada masa konstruksi (1962-1966) yang menampilkan para penjaja dan pelapak yang melambangkan perjuangan rakyat kecil mencari nafkah. Menurut catatan, pembuat relief ini adalah kelompok pematung, pelukis dari Yogyakarta.

Siapa arsitek atau desainer patung ini masih ditelusuri oleh TACB juga blue print atau cetak birunya, karena penting untuk pekerjaan restorasi.  Secara berkala, Sarinah akan melaporkan progres pemugaran dan transformasi bisnis kepada publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *