Dirjen Migas: Pengurasan Minyak di Blok Rokan Tak Hanya Soal Formula

1 min read


Penerapan teknologi pengurasan minyak atau enhanced oil recovery (EOR) di Lapangan Minas, Blok Rokan, Riau, tak melulu persoalan formula. Pola injeksi juga menjadi hal yang penting.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji mengatakan, EOR bukan teknologi mudah. Pertamina, selaku operator pengganti Chevron, harus memiliki ketrampilan khusus. 

Pertamina diperkirakan tak bisa memanfaatkan langsung hasil riset Chevron terkait EOR Lapangan Minas. Perusahaan asal Amerika Serikat itu bukan tidak mau memberikan formulanya meskipun alih kelola rampung pada Agustus 2021. Namun, pembuatannya merupakan urusan business to business. “Jadi, keduanya harus berdiskusi secara b-to-b,” kata Tutuka dalam konferensi pers secara virtual, Senin (18/1). 

Apabila Pertamina tak kunjung memperoleh formula tersebut, maka perusahaan harus melanjutkan kembali studinya. “Hal ini memerlukan waktu yang tidak sebentar dan investasi yang tidak sedikit,” ujarnya. 

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto meminta agar proses kajian untuk mencari formula EOR di Blok Rokan dapat segera dilakukan. “Ada empat formula, yang tiga diberikan (Chevron), yang satu enggak. Ya sudah diambil saja inti dari tiga campuran ini,” ujar dia.

Ia yakin Indonesia mampu menemukan formulanya karena memiliki pusat penelitian dan pengembangan teknologi minyak dan gas bumi. Misalnya, Lemigas, PT LAPI Laboratories, dan Institut Teknologi Bandung. “Kita punya banyak expert (ahli), duit risetnya bisa dicari. Masa nggak bisa menemukan satu formula yang tidak diberikan oleh Chevron,” ujarnya.

Potensi Minyak dari EOR Blok Rokan

Chevron berhasil menerapkan EOR dengan menginjeksi bahan kimia ke sumur minyak di Lapangan Minas beberapa waktu lalu. Dari hasil uji coba, masih ada potensi 600 ribu hingga 800 ribu barel minyak per hari dari lapangan itu. 

Deputi Perencanaan SKK Migas Jaffee Arizon Suardin sebelumnya mengatakan Pertamina dapat melanjutkan program tersebut pada saat mengambil Alih Blok Rokan pada awal Agustus 2021.“Semoga kami dapat meneruskanya,” kata Jaffee.

Namun, Pelaksana Tugas Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Susana Kurniasih menyebut salah satu komponen dalam formula EOR Blok Rokan tidak masuk dalam penggantian biaya operasi atau cost recovery. Chevron pun memegang hak paten formulanya sehingga tak bisa langsung diserahkan ke Pertamina.

Apabila Pertamina menginginkannya, maka perlu pembahasan secara bisnis (business-to-business) antar kedua pihak. “Kalau Pertamina tidak mau, maka harus studi lagi dan itu butuh waktu,” ucap Susana.

Pembahasan permintaan formula tersebut masih berlangsung. “Finalnya nanti pada saat alih kelola,” katanya. Harapannya, proses transisi ini dapat berjalan mulus agar lapangan tua di Blok Rokan tidak mengalami penurunan produksi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *