Masker Tetap Harus Dipakai Meski Sudah Disuntik Vaksin

1 min read


Vaksinasi resmi dilakukan di Indonesia pada hari Rabu (13/1) pada pukul 10.00 WIB di Istana Presiden, Jakarta. Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang disuntik vaksin Covid-19 Sinovac pada hari itu. Selain Presiden Jokowi, terdapat sejumlah orang lainnya yang tergolong pada tiga kelompok hadir untuk disuntik vaksin saat penyuntikan dosis pertama ini.

Kelompok pertama adalah pejabat publik daerah seperti gubernur, kepala dinas kesehatan, sekretaris daerah, panglima kodam (pangdam), kepala kepolisian daerah (kapolda), dan direktur utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) rujukan Covid-19. Kelompok kedua adalah pengurus asosiasi profesi tenaga kesehatan dan pemimpin opini kunci kesehatan daerah. Lalu kelompok ketiga yaitu tokoh agama daerah seperti perwakilan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, perwakilan organisasi Kristen, Katolik, Budha, dan Hindu.

Vaksin Sinovac memiliki efikasi sebesar 63,5 persen di Indonesia, dibandingkan beberapa vaksin sejenis dari produsen lainnya yang telah diuji klinis di negara lain. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menerangkan bahwa vaksin menjadi salah satu kunci utama untuk mewujudkan kekebalan komunitas atau herd immunity.

“Kami telah menerima rekomendasi dari WHO (World Health Organization), bahwa nilai efikasi diatas 50 persen dapat diterima. Dan kita tahu, jika angka lebih rendah, tentunya orang yang akan divaksinasi akan lebih banyak jumlahnya. Dan itu saya kira adalah tantangan untuk berbagai negara di dunia termasuk Indonesia,” kata Wiku dalam agenda International Media Briefing secara daring di Gedung BNPB yang disiarkan di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (14/1).

Meski sudah disuntik vaksin, orang tersebut tetap perlu memperhatikan protokol 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak), khususnya tetap memakai masker ketika harus keluar rumah. Melansir Kompas.com, Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia, Prof Dr dr Iris Rengganis menyampaikan beberapa alasan agar tetap mengedepankan protokol kesehatan, bahkan setelah disuntik vaksin Covid-19.

Profesor Iris berpendapat bahwa vaksin Covid-19 hanya menjadi strategi pendukung untuk setidaknya mengendalikan atau memutus rantai kasus infeksi. Sebab, strategi utamanya adalah dengan tetap menjalankan protokol 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak minimal 1,5 meter) dan 3T (testing, tracing, dan treatment). Selain itu perlu memperhatikan protokol VDJ (ventilasi, durasi, dan jarak) dengan menghindari kerumunan, khususnya pada durasi yang lama di ruangan tertutup atau sirkulasinya buruk.

Selanjutnya, perlu diingat pula bahwa antibodi tidak langsung muncul setelah disuntik vaksin. Untuk penyuntikan vaksin jenis CoronaVac dari Sinovac Biotech Ltd yang bekerja sama dengan PT Bio Farma, dibutuhkan penyuntikan dua kali dosis vaksin agar vaksin inactivated atau virus dimatikan. Sementara, Indonesia baru melalui penyuntikan dosis pertama. Antibodi pun akan muncul secara utuh pada jeda waktu minimal 14 hari di tubuh.

“Makanya penyuluhan ini penting, jangan sampai orang sekali vaksin, terus dia berpikir ini aman, lantas 3M nya tidak dia lakukan lagi, jadi sebelum vaksin kedua dia sudah tertular (Covid-19),” kata Iris menekankan.

Iris pun melihat, kemungkinan terinfeksi dapat terjadi ketika protokol kesehatan diabaikan. Maka sebab itu, protokol kesehatan 3M dan memperhatikan VDJ jadi kunci utama keberhasilan vaksin tersebut. Ketika harus keluar rumah, masyarakat tetap tidak boleh melepas masker dan harus menghindari kerumunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *