Kapasitas Menipis, Rumah Sakit Covid-19 Prioritaskan Pasien Bergejala

1 min read


Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Kapasitas rumah sakit rujukan Covid-19 semakin menipis. Rumah sakit diminta selektif dalam menerima dan menangani pasien Covid-19 dengan pengkhususan bagi yang bergejala sedang, berat dan kritis.

Satuan tugas (Satgas) penanganan Covid-19 sebelumnya mencatat, di beberapa daerah, keterisian ruang unit perawatan intensif (ICU) dan tempat tidur sudah melebihi 70%. Sebanyak 9 provinsi memiliki keterisian rumah sakit tertinggi.

Daerah tersebut di antaranya Jakarta sebanyak 84,75%, Banten 84,52%, Yogyakarta 83,36%, Jawa Barat 79,77%, Sulawesi Barat 79,31%, Jawa Timur 78,41%, Jawa Tengah 76,27%, Sulawesi Selatan 72,40% dan Sulawesi Tengah 70,59%.

Dengan kondisi tersebut, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Lia G Partakusuma menyarankan, rumah sakit lebih cermat menangani pasien. 

Agar dapat terlayani, pasien diminta untuk melakukan testing sebelum dirawat. Tak hanya itu, pasien diminta tidak ditunggu oleh anggota keluarga, guna menghindari penyebaran virus yang lebih luas. 

“Kami meminta masyarakat memahami ketersediaan tempat tidur sudah terbatas. Sehingga, jangan lagi menambah jumlah pasien yang harus dirawat di rumah sakit,” ujar Lia kepada Katadata.co.id, Rabu (6/1).

Pihak rumah sakit terus berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 daerah dalam mendata tingkat keterpakaian kamar rumah sakit. Satgas daerah juga mengumpulkan rumah sakit rujukan dari tempat isolasi yang ditunjuk Pemerintah Daerah (Pemda).

Di sisi lain, anggota perhimpunan rumah sakit pun tengah berupaya menambah kapasitas ruang isolasi agar pasien dapat ditangani. “Kami juga berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Satgas Covid-19 daerah, agar kapasitas ruang isolasi dapat ditambah,” kata dia.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menyebutkan, minimnya ketersediaan ruang isolasi maupun tempat tidur di rumah sakit, menjadi alarm bagi seluruh pihak.

Ia pun mengingatkan bahwa sisa tempat tidur rumah sakit yang masih ada belum tentu bisa digunakan oleh pasien. Ditambah dengan terbatasnya tenaga kesehatan di rumah sakit membuat situasi kian darurat. 

Banyak tenaga medis yang wafat akibat Covid-19. Berdasarkan data Satgas, terdapat 237 dokter meninggal akibat virus corona. Tren peningkatan kematian dokter terutama  terjadi pada Desember 2020.

Kondisi tersebut seharusnya menjadi peringatan bagi semua pihak, terutama dalam menjalankan protokol kesehatan. Jika masyarakat terus abai dan tidak menerapkan disiplin protokol kesehatan yang ketat, fasilitas kesehatan yang ada tidak akan cukup menangani kasus-kasus baru.

“Satu-satunya cara mencegah penularan yaitu menjalankan 3M, memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan,” ujar Wiku.

Untuk informasi, kasus aktif Covid-19 di Indonesia masih belum menunjukkan tren pemulihan. Pada Rabu, (6/1), Kemeneks mencatat kasus aktif Corona bertambah 8.854 jiwa.

Angka ini melebihi tambahan kasus baru pada 3 Desember yang mencapai 8.369 kasus. Adapun penambahan kasus tertinggi berasal dari Jakarta dengan total kasus 2.402.

Kemudian provinsi Jawa Barat bertambah 1.470, Jawa Tengah 1.023, Jawa Timur 845, Sulawesi Selatan 463 jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *