‘Lobi’ Otoritas Singapura di Balik Kabar Merger Gojek dan Grab

2 min read


Gojek dan Grab dikabarkan berdiskusi terkait merger sejak tahun lalu. Keduanya bahkan disebut-sebut sepakat untuk membentuk entitas gabungan. Meski belum ada kejelasan terkait hal ini, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Singapura membuka peluang untuk membahas rumor ini dengan KPPU Indonesia.

KPPU Singapura atau CCCS memberikan selamat kepada Kodrat Wibowo atas terpilihnya ia sebagai ketua Komisi periode 2020-2023. Isi surat tertanggal 16 Desember 2020 ini juga memuat tentang pertukaran staf dan kerja sama terkait lokakarya bertajuk ‘big data dan hukum persaingan’.

Selanjutnya, kedua KPPU akan menandatangani nota kesepahaman yang memfasilitasi kerja sama penegakan hukum lintas batas. “Seperti potensi merger antara Grab dan Gojek baru-baru ini,” demikian tertulis pada surat tersebut, dikutip Rabu (6/1).

Kodrat membenarkan isi surat tersebut. Namun, ia mengatakan bahwa KPPU Indonesia memang selalu berkomunikasi dengan CCCS. “Ini karena kami berada dalam forum komunikasi persaingan usaha ASEAN,” kata dia kepada Katadata.co.id, Rabu (6/1).

Terkait kabar merger Gojek dan Grab, ia belum menerima laporan dari kedua decacorn. Namun, “kalau rencana diskusi (dengan KPPU Singapura), iya (ada). Sedang diagendakan,” ujar dia.

Sedangkan terkait rumor Gojek mengkaji merger dengan Tokopedia, ia juga belum mendapatkan laporannya. “Kami belum menerima laporan apapun,” kata Kodrat.

Oleh karena itu, ia belum dapat berkomentar terkait potensi monopoli jika Gojek merger dengan Grab ataupun Tokopedia. “Rezim UU Nomor 5 Tahun 1999 post-notification, laporan merger dan akuisisi paling lambat 30 hari setelah pengesahan secara legal, utamanya dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham),” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Komisioner KPPU Guntur Saragih. “Kami belum menerima notifikasi,” kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa (5/1).

Ia menjelaskan, sesuai dengan PP Nomor 57 Tahun 2010, pelaku usaha harus mengirimkan notifikasi ke KPPU jika merger dan akuisisi. “Kesimpulan (dapat menimbulkan monopoli atau tidak) akan diketahui dari penilaian notifikasi itu,” ujar Guntur.

Sebelumnya, sumber Bloomberg mengungkapkan bahwa Gojek dan Grab sepakat membentuk perusahaan gabungan. Entitas baru ini akan berfokus melantai di bursa saham dan menjadi raksasa teknologi di Asia Tenggara.

CEO Grab Anthony Tan disebut-sebut akan memimpin entitas bisnis tersebut. Itu artinya, perusahaan gabungan itu berpotensi menjadi startup jumbo Singapura.

Jika merger itu terwujud dan sesuai dengan perhitungan Tech In Asia, status perusahaan gabungan Gojek dan Grab mendekati hectocorn atau valuasi US$ 100 miliar lebih.

Itu artinya, valuasi gabungan kedua decacorn mendekati pengembang media sosial TikTok, ByteDance, dan perusahaan berbagi tumpangan (ride hailing) di Tiongkok, Didi Chuxing.

Namun, pada Desember 2020, Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita menyampaikan bahwa fundamental bisnis perusahaan semakin kuat, termasuk saat pandemi corona. Layanan inti sudah mencetak margin kontribusi positif pada 2020.

Transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) pun tumbuh 10 % menjadi US$ 12 miliar atau Rp 170 triliun sejak awal 2020. Sedangkan transaksi GoPay meningkat 2,7 kali secara tahunan per Oktober.

“Kami terus memprioritaskan pertumbuhan yang berkelanjutan untuk memberikan layanan terbaik kepada pengguna dan mitra,” kata Nila kepada Katadata.co.id, awal bulan lalu (3/12/2020).

Namun, ia enggan berkomentar mengenai kabar pembahasan merger tersebut. “Kami tidak dapat menanggapi rumor yang beredar di pasar,” katanya.

Begitu juga dengan Grab. “Kami tidak berkomentar mengenai spekulasi yang beredar di pasar,” ujar juru bicara Grab.

Tetapi kini, Gojek dan Tokopedia justru dikabarkan mengkaji merger. Investor Grab dan Tokopedia, SoftBank disebut-sebut mendukung rencana konsolidasi ini.

Sumber Bloomberg yang enggan disebutkan namanya mengatakan, Gojek dan Tokopedia telah menandatangani lembar persyaratan terperinci untuk uji tuntas bisnis masing-masing. “Kedua pihak melihat potensi sinergi dan ingin menutup kesepakatan secepat mungkin dalam beberapa bulan ke depan,” kata dia dikutip dari Bloomberg, Selasa (5/1).

Gojek dan Tokopedia dikabarkan telah mempertimbangkan potensi merger sejak 2018. Sumber menyampaikan, diskusi ini dipercepat setelah pembicaraan kesepakatan antara Gojek dan Grab menemui jalan buntu.

CEO Grab Anthony Tan terus menolak tekanan dari SoftBank Group Corp untuk menyerahkan sebagian kendali atas entitas gabungan kepada Gojek. CEO SoftBank Masayoshi Son dikabarkan kehilangan kesabaran akibat lamanya diskusi merger kedua decacorn ini.

“Sekarang Son mendukung merger antara Gojek dan Tokopedia,” demikian kata sumber. SoftBank merupakan investor Grab dan Tokopedia.

Padahal, diskusi antara Gojek dan Grab terkait merger disebut-sebut ada kemajuan substansial pada Desember lalu. Namun kedua decacorn ini berselisih tentang bagaimana mengelola bisnis di Indonesia, yang merupakan pasar utama.

Sumber menyampaikan, Gojek menginginkan 40% saham di entitas gabungan tersebut. Tetapi, “Grab menilai jumlahnya secara fundamental terlalu banyak,” kata dia dikutip dari Tech In Asia, Minggu (3/1). Ini karena Grab yakin bahwa keuangannya lebih kuat.

Selain itu, Grab mengajukan beberapa syarat untuk merger. Beberapa di antaranya memberikan Anthony hak suara yang besar di perusahaan gabungan, hak veto keputusan dewan direksi, dan kendali atas penghasilan sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *