Prospek Cerah Industri RI 2021 Usai Terguncang Pandemi Covid-19

3 min read


  • Kondisi industri tahun ini diprediksi membaik usai dihantam Covid-19
  • Meski demikian perbaikan tak lantas membawa kondisi seperti 2019
  • Program vaksinasi yang dilakukan pemerintah menjadi salah satu kunci pertumbuhan 2021

Pandemi Covid-19 telah membuat pertumbuhan industri manufaktur melemah pada 2020. Bahkan Kementerian Perindustrian sempat memperkirakan, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada 2020 mencapai minus 2,22 persen alias terendah selama sepuluh tahun terakhir.

Meski demikian, optimisme tetap terpancar pada tahun ini. Bahkan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang memperkirakan, industri pengolahan nonmigas akan tumbuh sebesar 3,95% pada 2021. 

“Dengan asumsi pandemi Covid-19 dapat dikendalikan dan sudah ada vaksin sehingga aktivitas ekonomi mulai pulih,” kata Agus dalam Jumpa Pers Kinerja 2020 di kantornya, Senin (28/12).

Ia pun memperkirakan, semua subsektor industri mampu tumbuh positif pada tahun ini. Sebagai contoh, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri makanan bakal tumbuh 4,49% pada 2021, sedangkan industri minuman tumbuh 4,39%.

Kemudian, PDB industri kendaraan bermotor diperkirakan tumbuh sebesar 7,72%. Sementara, industri logam dasar diperkirakan tumbuh 2,02%. Selain itu, ada pula industri kullit, barang kulit, dan alas kaki yang tumbuh 8,20% serta barang galian bukan logam yang tumbuh 7,36%.

Dari sisi investasi, ia memperkirakan investasi industri pengolahan nonmigas pada 2021 mencapai Rp 323,5 triliun. Minat investasi diperkirakan meningkat karena adanya aturan Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) serta komitmen pemerintah untuk menyelesaikan aturan turunannya. 

 

Agus memproyeksikan, investor akan berminat pada sektor yang mengalami pertumbuhan pada tahun depan, seperti industri makanan dan minuman, logam, serta kendaraan bermotor berbasis baterai dan listrik.

Di sisi lain, aktivitas industri manufaktur di juga menunjukkan kinerja yang baik pada akhir 2020. Hal tersebut tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2020 yang tercatat di level ekspansif, yaitu 51,3 atau naik dibanding capaian bulan sebelumnya yang berada di posisi 50,6.

Vaksin Jadi Kunci

Wakil Ketua Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Johnny Darmawan optimistis proyeksi pertumbuhan industri manufaktur sebesar 3,95% pada tahun ini bisa tercapai. Namun, pertumbuhan tersebut bisa tercapai bila vaksinasi Covid-19 telah berhasil.

“Tapi kalau asumsi meleset, vaksin gagal, ya (pertumbuhan bisa) drop lagi,” kata Johnny.

Menurutnya, pembatasan mobilitas telah mendorong konsumsi masyarakat untuk fokus pada produk dalam negeri. Hal ini turut mendorong peningkatan permintaan dan produksi.

Di sisi lain, tingkat kedisplinan masyarakat terhadap protokol Covid-19 telah meningkat. Kondisi tersebut turut mendorong kepercayaan konsumsi masyarakat.

Johnny pun memperkirakan, sektor yang akan tumbuh positif pada tahun ini ialah industri makanan dan minuman hingga otomotif. “Sektor yang konsumtif pasti ada pergerakan,” ujar dia.

Beberapa pengusaha juga menyampaikan optimismenya bahwa kondisi tahun ini lebih baik ketimbang 2020. Namun mereka memprediksi situasi 2021 belum akan sebaik 2019. Berikut daftarnya: 

Makanan dan Minuman

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman memperkirakan, industri makanan dan minuman akan tumbuh berkisar 5-7 persen, meningkat dibandingkan proyeksi pertumbuhan pada 2020 sebesar 1-2 persen.

“Tapi belum bisa tumbuh normal sebesar 8-9 persen meski sudah membaik,” kata Adhi.

Optimisme tersebut muncul seiring dengan adanya program vaksinasi Covid-19. Bila berhasil, konsumsi kelas menengah-atas diperkirakan meningkat. Ia pun menyebutkan, konsumsi masyarakat kelas menengah-atas berkontribusi sebesar 82 persen terhadap total konsumsi rumah tangga.

Dari sisi ekspor, ia memperkirakan kinerjanya semakin positif pada tahun ini. Sebab, peningkatan harga komoditas turut meningkatkan kemampuan berbagai negara untuk meningkatkan impor.

Hingga September 2020, GAPMMI mencatat ekspor makanan dan minuman tumbuh 5 persen secara tahunan. Ia memperkirakan, ekspor pada 2020 akan tumbuh 5-6 persen.

Sedangkan dari sisi investasi, prospeknya juga diperkirakan semakin positif. “Banyak investor yang ingin masuk Indonesia karena konsumsi pangan Indonesia cukup tinggi,” ujar Adhi.

Terdekat, ada perusahaan gula asal Taiwan diperkirakan bakal masuk ke Tanah Air. Selain itu, ada sejumlah investor yang menyatakan minatnya untuk masuk pada segmen hilir.

Industri Otomotif 

Pertumbuhan industri otomotif diperkirakan bakal meningkat seiring dengan peningkatan penjualan kendaraan. Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto mengatakan, target penjualan kendaraan pada 2021 sebesar 750 ribu unit, naik dibandingkan perkiraan penjualan mobil pada tahun lalu sebesar 525 ribu unit.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan berada di 3-4 persen. Ini bisa menaikkan angka penjualan kendaraan bermotor,” kata Jongkie.

Data Gabungan Industri Kendaraan Motor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan mobil selama November 2020 naik 9,8% menjadi 53.844 unit dibandingkan Oktober yang sekitar 49.018 unit. Namun, jika dibandingkan November 2019, penjualan mobil nasional masih anjlok 41%. Demikian pula sepanjang Januari-November 2020, penjualan mobil mencapai 474.908 unit, menyusut 49% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Konsumsi Ritel Tumbuh

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja (APBI) Alphonzus Widjaja memperkirakan, pemulihan pusat belanja baru terjadi pada triwulan III 2021 atau awal semester II 2021.

“Belum akan pulih normal tapi baru akan mulai bergerak menuju kondisi normal,” katanya. Ia memperkirakan, usaha pusat perbelanjaan akan kembali pulih setelah vaksinasi dilakukan untuk masyarakat umum, yaitu pada triwulan I-II 2022.

Ia pun mencatat, rata-rata transaksi penjualan di pusat perbelanjaan sepanjang 2020 mencapai Rp 60 miliar per bulan per mall. Capaian tersebut menurun dibandingkan rata-rata transaksi pada 2019 sebesar Rp 150 miliar per bulan per mall.

Pesimisme Pariwisata

Adapun industri pariwisata tak memiliki optimisme yang sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menghadapi geliat tahun ini. Sekretaris Jenderal  Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menilai target Kemenpar mendatangkan 4 sampai 7 juta wisatawan tahun ini sulit tercapai.

Pasalnya lonjakan kasus Covid-19 masih juga terjadi di Indonesia. Selain karena lonjakan kasus corona, munculnya varian baru virus semakin menambah ketidakpastian meskipun program vaksinasi siap dilaksanakan. 

“Target 4-7 juta wisman belum bisa kami bayangkan. Apalagi sekarang akses wisman ditutup karena adanya varian baru Covid-19,” katanya kepada katadata.co.id, Senin (4/1). 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *